Sabtu, Mei 08, 2010

Kakadu Plum


Oleh: A. Muzi Marpaung

Kakadu plum. Pernah dengar nama ini? Nama ilmiahnya lumayan indah : Terminalia ferdinandiana. Kemungkinan besar ia masih asing bagi kebanyakan kita. Buah ini adalah pemegang rekor tertinggi untuk kandungan vitamin C. Setiap 100 gram buah ini (100 gram kira-kira seukuran separuh jeruk kupas) mengandung 5000 mg vitamin C, atau setara dengan 5 butir Redoxon!

Alkisah, buah ini sudah dikenal sejak jaman prasejarah sebagai buah yang hebat yang dapat menyembuhkan beragam penyakit. Terkesan dengan cerita ini Dr George Kowalski menghabiskan waktu sekitar 10 tahun dengan helikopter untuk menyusuri jejak tanaman ini di seluruh wilayah Australia.

Hasilnya, kakadu plum berhasil dipelajari dengan baik dan sekarang menjadi salah satu super food paling spektakuler di dunia. Tidak cuma vitamin C, kakadu plum juga mengandung antioksidan, bermacam vitamin lain, serat, dan asam lemak omega 3.

Dan saya amat sangat yakin, yang semacam kakadu plum ini, ada di Indonesia. Itulah sebabnya, saya kira, mengapa salah satu kompetensi dasar dari pembelajaran sains di SD kelas 2 adalah :

"mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan DI SEKITAR RUMAH DAN SEKOLAH melalui pengamatan".

Jika kita ingin membangun sebuah bangsa yang inventif dan inovatif, maka cara berpikir ilmiah perlu dibangun sejak pendidikan dasar. Salah satu keterampilan ilmiah yang perlu dimiliki adalah mengamati. Dan yang paling utama untuk diamati adalah yang ada di sekitar anak-anak. Maka seyogyanyalah obyek pembelajaran sains di masing-masing daerah BERBEDA satu sama lain, meskipun topiknya sama.

Ambil contoh lagi, pembelajaran tentang tumbuhan yang menguntungkan. Apakah anak-anak yang tinggal di Jakarta tahu, bahwa pada suatu masa dulu (mungkin juga masih tersisa sekarang) cairan kembang teleng yang berwarna biru digunakan sebagai obat tetes mata bayi yang bermanfaat untuk membersihkan mata dari kotoran dan membuatnya jernih. Apakah kembang teleng ini diperkenalkan kepada anak-anak SMA kita sebagai indikator asam dan basa alami? Atau akan seterusnya kita selalu mencontohkan red cabbage (kol merah/kol ungu) sebagai indikator alami? Apakah kembang teleng tanaman asli Indonesia. Coba kita lihat nama latinnya : Clitoria ternatea

Apakah anak-anak di wilayah Jawa masih mengenal buah duwet (ada yang menyebutnya juwet) atau anggur jawa yang berwarna ungu tua, masam dan sepet? Atau mereka malah lebih mengenal anggur beneran yang aslinya adalah tanaman subtropis?

Apakah anak-anak di pulau Bintan masih mengenal buah kemunting atau buah letup-letup? apakah buah-buah ini pernah dibawa ke dalam kelas sebagai objek pembelajaran sains? Atau mereka lebih akrab dengan buah apel washington yang diimpor lewat Singapura?

Apakah anak-anak Sumatera Barat tahu bahwa tanaman khas propinsi mereka adalah Kayu Manis, dan apakah anak-anak Kalimantan Selatan tahu bahwa tanaman khas propinsi mereka adalah saga hutan (Adenanthera pavonina)? Apakah kayu manis atau saga pernah dibawa keruang kelas?

Di tingkat yang lebih tinggi, apakah mbok jamu pernah diundang ke sekolah (SMA) atau perguruan tinggi untuk bercerita tentang khasiat dari jamu-jamu itu serta memperkenalkan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan jamu gendong?

Keberagaman Indonesia adalah sebuah kekayaan. Akan tetapi, kita menyeragamkannya lewat buku-buku sains. Semua anak, dari sabang sampai merauke diperkenalkan kepada tanaman dan hewan yang sama. Semua anak di Indonesia melihat gambar kuda pada buku sains mereka.

sesudah ini saya akan sempatkan menulis tentang betapa konyolnya kita di dalam menggunakan buku-buku sains terjemahan

salam, muzi

Senin, April 26, 2010

Bacillus thuringiensis

nur hidayat

Bacillus thuringiensis telah diisolasi pada awal abad ke-20 di Jepang dari penyakit ulat sutra dan di Jerman dari penyakit “mealmoth”. Bakteri ini bermanfaat sebagai agen pengontrol bagi pertumbuhan Lepidoptera yang kemudian diketahui lebih lanjut setelahnya, dan baru dikembangkan secara komersial 40 tahun kemudian. Bacillus juga merupakan sumber antibiotik, penghasil flavor seperti nukleosida purin, surfaktan dan beberapa produk lainnya (Rehm, et. al, 1999).

Bacillus thuringiensis termasuk ke dalam grup Bacillus substilis yang memiliki karakteristik diantaranya: memproduksi asam dari berbagai jenis gula bahkan glukosa, organisme fakultatif an aerob, dapat tumbuh dengan cukup baik jika terdapat nitrat, sporanya berbentuk elips dan tidak dapat memperbesar diri, serta dapat menghasilkan enzim ekstraseluler seperti amylase, β-glukonase, dan protease (Rehm, et. al, 1999).

Bacillus thuringiensis tidak hanya digunakan sebagai pengontrol Lepidoptera, tapi juga dapat digunakan untuk membasmi larva koleoptera atau diptera (lalat, nyamuk). Produk ini digunakan pada tanaman atau lingkungan lainnya dimana terdapat larva insekta. Beberapa gen racunnya juga telah dikulturkan ke dalam beberapa tanaman pangan (Deacon, 2000).

Sel vegetatif Bacillus thuringiensis memiliki lebar 1 mikron dan panjang 5 mikron, dan bergerak. Bacillus thuringiensis digunakan sebagai pengendali hama karena sifatnya yang spesifik terhadap hama dan tidak berbahaya bagi manusia, ikan, burung, anijng, babi, tikus, dll atau hama-hama tanaman lainnya, juga tidak bersifat karsinogenik. Kemampuannya sebagai pengendali hama disebabkan oleh kristal protein yang diproduksinya. Produk Bt komersial mengandung spora Bt sebesar 2.5 x 1011 spora / gram. Produk Bt berkurang efektifvitasnya jika disimpan lebih dari enam bulan (Annonymous, 2005a).

Bacillus thuringiensis secara langsung dapat menyebabkan kematian pada insekta, dan isolasi racun dari beberapa strain menberikan pengaruh yang berbeda-beda. Bt memiliki pengaruh yang besar dalam pertanian. Pada tahun 1997, Bt digunakan untuk tanaman kapas, jagung dan kentang di Amerika ( Neppl, 2000).

Bacillus thuringiensis menghasilkan dua macam racun,. Racun yang utama disebut Cry (kristal) toksin, dikodekan dengan gen cry yang berbeda, dan inilah yang mendasari pengklasifikasian Bt. Tipe kedua adalah Cyt (cytolytic) toksin yang dapat menambah Cry toksin untuk mengontrol insekta (Deacon, 2000). Cry toksin hanya mengenali daerah tertentu dari insekta. Gen cyt dapat menyerang diptera dan koleptera, dan dapat juga menyerang hemiptera dan diktioptera (Frutos et al, 1999). Cyt toksin tidak seperti cry toksin karena tidak dapat mengenali daerah secara khusus (Lereclus et al, 1993).

Mekanisme kerja racun Bt adalah setelah Bt masuk ke dalam perut larva, maka kristalnya akan masuk kedalam usus larva. Kemudian enzim dalam usus akan memecah kristal dan mengaktivkan komponen insktisida Bt yang disebut δ-endotoksin. Delta endotoksin berikatan dengan sel yang menempel pada dinding membran usus dan membentuk lubang pada membrane, dan mengganggu keseimbangan ion dalam usus. Insekta akan berhenti makan dan kelaparan kemudain mati. Jika insekta tidak terpengaruh secara langsung oleh kerja δ-endotoksin, kematian pada insekta terjadi setelah pertumbuhan vegetatif Bt di dalam usus insekta. Spora tumbuh setelah dinding usus hancur, dann kemudian memproduksi semakin banyak spora. Infeksi yang semakin meluas pada tubuh ensekta menyebabkan kematian pada insekta tersebut (Swadener, 1994).

Lebih dari 40 tahun formula Bt dan δ-endotksin-nya telah diproduksi secara komersial. Beberapa diantaranya telah banyak diaplikasikan dalam pertanian untuk mengendalikan hama, tapi biayanya sangat tinggi terutama untuk Negara berkembang. Sehingga perlu memproduksi Bt dengan menggunakan bahan-bahan lokal yang tersedia dan menguntungkan (Pragabaran, et al., 2004)

Produksi Bt secara komersial sangat penting secara ekonomi dan dalam rangka meningkatkan produksinya dibutuhkan sumber daya manusia, teknologi alat produksi dan kontrol, bahan baku yang tersedia dan murah, mikroorganisme yang medah beradaptasi dan fasilitas bioassay. Hal tersebut akan mengurangi biaya produksi dan meningkatkan jumlah produk yang dihasilkan sehingga dapat digunakan baik untuk kepentngan pertanian atau program kesehatan (Behle, et al, 1997; Kroeger, et al., 1995).

Bacillus thuringiensis sorovar israelensis (Bti) telah digunakan secara luas sejak tahun 1980 dalam beberapa program pengendalian lalat buah dan nyamuk . Hal ini disebabkab karena kemampuan sracunnya yang tinggi terhadap organisme sasaran (spesifik) dan aman bagi lingkungan (Regis and Nielson-Leroux, 2000).

Bti adalah strain bakteri yang memproduksi kristal protein yang beracun bagi larva nyamuk dan lalat buah. Kristal ini berfungsi sebagai racun di dalam perut karena diaktivasi oleh enzim pencernaan alkalin yang terdapat dalam usus larva nyamuk. Binding usus akan pecah beberapa jam setelah Bti masuk ke dalamnya dan setelah 24 sampai 48 jam, larva nyamuk akan mati (Annoymous, 2005b).

Bti memproduksi kristal protein insektisida (ICPs) yang memiliki kemampuan membasmi larva beberapa jenis dari ordo Diptera seperti lalat dan nyamuk. Hidrolisis ICP dalam usus larva akan menghasilkan empat protein utama dengan berat molekul 27, 65, 128 dan 135 kDa. Daya racunnya disebabkan karena interaksi sinergisme antara protein 25-kDa dan satu/lebih dari protein lainnya (Lee, et al., 2003).

Bti mengandung sedikitnya lima polipeptida yang menghasilkan kristal paraspora (δ-endotoksin) yang dikodekan dengan gen-gen respektif yang banyak dihasilkan pada masa sporulasi (Federici, et al., 1990; Porter, et al., 1993).

Bti (sorovar H14) adalah bakteri yang khusus memproduksi δ-endotoksin. Oleh karena itu Bti (sorovar H14) merupakan salah satu agen pengontrol biologi yang terbaik (de Barjac, and Sutherland, 1990). Kemampuannya dalam membasmi nyamuk terdapat dalam lima polipeptida yang terdapat dalam tubuh kristalin paraspora (δ-endotoksin) (Hofte and Whiteley, 1989; Margalit, et al., 1995).

Meskipun kemampuan racunnya terhadap larva nyamuk sangat bagus, tapi kemampuan Bti di lapang sangat terbatas karena partikel-partikelnya akan mengndap dengan cepat seiring dengan waktu pertumbuhan larva. Salah satu upaya untuk mengatasi keterbatasan ini adalah dengan kloning gen Bti pada organisme yang hidup di daerah perkembangbiakan nyamuk dan menggunakannya sebagai sumber makanan (Boussiba, and Wu, 1995; Thiery et al., 1991). Cyanobakteri dapat dipegunakan sebagai organismen yang cocok untuk tujuan ini (Zaritsky, 1995; Boussiba, and Wu, 1995; Boussiba, and Zaritsky, 1992).

Untuk mengontrol larva nyamuk, Bti ditempatkan di daerah denangan air dimana larva hidup sepeti selokan dan danau yang dangkal. Bakteri ini menyebabkan kerusakan pada sistem pencernaan larva nyamuk dan menyebabkan kematian jika dimakan olehnya. Racun Bti dapat terbiodegradasi dengan cepat pada lingkungan karena pengaruh sinar matahari dan mikroorganisme sehingga aman bagi lingkungan (Annonymous, 2004).

Rabu, April 14, 2010

Pati Ganyong Potensi Lokal yang Belum Termanfaatkan

Sumber: Majalah Kulinologi Indonesia edisi Maret 2010
link: http://www.kulinologi.biz/preview.php?view&id=264

Oleh Nur Hidayat

Saatnya lebih memanfaatkan potensi lokal. Peluang besar menanti Anda. Jangan takut berinovasi!

Gandum sebagai bahan dasar tepung terigu bukanlah tanaman lokal Indonesia. Makanya, untuk memenuhi pasokannya kita masih harus mengimpor.
Ide untuk menggantikan, atau paling tidak mengurangi ketergantungan pada tepung terigu untuk produk-produk bakery sebenarnya sudah lama tercetus. Singkong dan ubijalar pernah dicoba. Sayangnya, singkong dan ubijalar ketika digunakan untuk membuat roti, memiliki kemampuan mengembang yang rendah sehingga dianggap tidak layak digunakan, meskipun kini telah berkembang tepung modifikasinya.

Belakangan muncul lagi pemain baru, yaitu tanaman ganyong. Ganyong merupakan tanaman semusim yang dibudidayakan masyarakat dengan cara yang sederhana. Di Malang misalnya, tanaman ganyong ditanam ketika memasuki musim penghujan dan setelah 7 – 10 bulan kemudian dilakukan pemanenan. Selama penanaman tidak dilakukan pemupukan. Produksi umbi ganyong dapat mencapai 2,5 -2,84 kg/ tanaman. Satu hektar lahan bisa menghasilkan umbi kurang lebih 30 ton.

Tepung ganyong sangat mudah dicerna sehingga bisa dipakai untuk makanan bayi, dimanfaatkan untuk bahan kue ataupun makanan pokok. Tepung pati ganyong memiliki karakteristik yang cukup baik untuk dikembangkan dalam industri bakery.

Ganyong memiliki tekstur dan rasa mirip ubijalar. Hanya, kelemahan ganyong jika dikonsumsi langsung adalah banyaknya kandungan serat di dalamnya, sedang bentuk patinya akan membentuk gel ketika dimasak. Masyarakat demikian, beberapa uji coba sudah membuktikan bahwa untuk produksi cookies, tepung ganyong dapat diandalkan sebagai pengganti tepung terigu, hingga 100%. Pada pembuatan cookies, jumlah pati ganyong yang diperlukan bahkan hanya 1/3 dari jumlah terigu yang biasa dipakai. Pembuatan kue dapat dilakukan dengan 100% pati ganyong, misalnya pada kue ganyong pandan dan kue ulat sutera. Sedangkan dalam pembuatan biskuit dapat dilakukan dengan mencampur 50% tepung atau pati ganyong dan 50% tepung terigu. Pada pembuatan kue sus, tepung atau pati ganyong dapat digunakan untuk membuat kulitnya dengan umumnya mengkonsumsi bentuk gel ini bersama dengan larutan gula encer dicampur jahe dan dikonsumsi untuk menghangatkan badan di suhu yang dingin.

Tepung ganyong selama ini oleh petani dijual langsung ke tengkulak karena ketidaktahuan mereka mengenai pemanfatannya. Tengkulak umumnya menyetor tepung ganyong ke produsen soun karena sifat gelatinisasinya yang bagus.

Penelitian-penelitian tentang pemanfaatan tepung ganyong menjadi produk roti belum banyak dilakukan sehingga tidak diketahui aplikasinya. Namun demikian, beberapa uji coba sudah membuktikan bahwa untuk produksi cookies, tepung ganyong dapat diandalkan sebagai pengganti tepung terigu, hingga 100%. Pada pembuatan cookies, jumlah pati ganyong yang diperlukan bahkan hanya 1/3 dari jumlah terigu yang biasa dipakai. Pembuatan kue dapat dilakukan dengan 100% pati ganyong, misalnya pada kue ganyong pandan dan kue ulat sutera. Sedangkan dalam pembuatan biskuit dapat dilakukan dengan mencampur 50% tepung atau pati ganyong dan 50% tepung terigu. Pada pembuatan kue sus, tepung atau pati ganyong dapat digunakan untuk membuat kulitnya dengan jumlah separuh dari tepung terigu.

Kajian tentang sifat-sifat fisiko kimia menunjukkan bahwa pati ganyong memiliki potensi yang bagus untuk produk bakery karena memiliki viskositas yang tinggi, gel yang kuat dan tinggi kandungan fosfornya. Produk bakery yang dibuat dari pati ganyong lebih cerah, lebih crispy dan lebih berasa dibandingkan yang dibuat dari gandum. Kelebihan ganyong dibandingkan dengan gandum adalah ganyong bebas gluten. Gluten merupakan salah satu substansi allergen yang banyak dijumpai di tepung terutama gandum.

Modifikasi tepung ganyong
Potensi ganyong di Indonesia cukup tinggi. Kini banyak daerah yang mengembangkan ganyong karena mudahnya cara budidaya. Sentra yang kini dikembangkan untuk ganyong mencakup Jawa Tengah (Klaten, Wonosobo, dan Purworejo), Jawa Timur (Malang dan Pasuruan), Daerah Istimewa Yogyakarta, Jambi, Lampung, dan Jawa Barat (Majalengka, Sumedang, Ciamis, Cianjur, Garut, Lebak, Subang, dan Karawang). Daerah Papua sebenarnya merupakan daerah yang potensial untuk produksi ganyong,

Pati alami dapat diperbaiki sifat-sifatnya agar sesuai dengan harapan, melalui modifikasi pati. Di Indonesia produk pati modifikasi yang sudah dikenal adalah MOCAF (MOCAL) dari singkong melalui fermentasi menggunakan bakteri asam laktat. Pada dasarnya terdapat beberapa tipe modifikasi, diantaranya adalah secara fisik, kimia dan enzimatis. Contoh proses modifikasi adalah oksidasi, benzilasi, etoksilasi, dan karboksimetilasi. Karboksimetilasi umumnya menggunakan sodium monochloroacetate (SMCA) dan dihasilkan produk carboxymethyl starch (CMS).

Pati ganyong termodifikasi ini memiliki sifat yang beda dengan yang bentuk alaminya, yaitu mudah larut dalam air dingin, sehingga cocok untuk berbagai keperluan seperti pembuatan kertas, tekstil, absorben, farmasi dan medis. Untuk keperluan produk bakery pati ganyong modifikasi belum diuji coba. Seperti halnya aplikasi singkong dan ubijalar, pemanfatan pati ganyong dalam pembuatan kue memang perlu disosialisasikan lebih terpadu. Pengenalan jenis-jenis olahan pati ganyong akan sangat mendukung petani untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Pelatihan pembuatan produk bakery langsung ke petani atau ibu rumah tangga mestinya secara intensif dilakukan agar masyarakat terbiasa dan menyukai produk bakery dari bahan lokal.

Kreativitas masyarakat dalam mengembangkan produk dan kemampuan marketing yang baik akan meningkatkan rasa cinta terhadap produk bakery dari bahan lokal.

Nur Hidayat Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Senin, April 05, 2010

Dr. Tan Shoat Yen : “Obat BUKAN JAWABAN”

( Dari Majalah “PESONA” Maret 2010, Halaman 80 -- 82 )

Ia mendidik pasiennya agar mengubah gaya hidup, tak tergantung pada obat dan tidak dibohongin dokter. Prinsipnya, pasien harus punya otonomi terhadap tubuh sendiri.

Cobalah berkunjung ke klinik dr. Tan Shot Yen di wilayah Bumi Serpong Damai pada pukul 11 di hari kerja. Anda akan melihat dr. Tan menghadapi beberapa pasien. Sekilas, Anda mungkin berpikir dokter sedang marah - marah. Padahal ia sedang menjelaskan tentang gaya hidup sehat pada pasien barunya. Pasalnya, memang begitu gaya dr. Tan, menjelaskan dengan suara keras. Bila kita simak ucapannya, semua yang dijelaskannya sangat penting dan membukakan mata.

“Kesalahan pasien dalam berobat hanyalah mencari tahu ‘bagaimana’. Bagaimana caranya menurunkan tensi, menurunkan kadar gula, menguruskan badan, menghilangkan senewen atau sakit di jemari. Jika Anda cuma tanya ‘bagaimana’, Anda akan jatuh menjadi sekadar konsumen. Pertanyaan terpenting adalah mengapa Anda sampai sakit ?” urainya.

Wanita 45 tahun ini memang tak mau punya pasien yang mengharapkan pil atau tongkat ajaib untuk membereskan tubuhnya. “Saya mau pasien yang taking ownership of their own body. Itu badan anda. Buat apa dokter yang sok tahu menyuruh ini - itu ? Yang benar buat dokter belum tentu benar buat Anda.” Wah, dokter yang satu ini tampaknya memang lain dari yang lain.

Mendorong Gaya Hidup Sehat

Perbedaan mencolok dr. Tan dibanding dokter lain pada umumnya adalah ia tidak mudah memberi obat. Rata - rata pasien yang keluar dari ruang prakteknya tidak menggenggam resep. Kalaupun ada resep, biasanya hanya vitamin dan omega-3, tergantung kondisi pasien.

“Sampai kapan seseorang mau tergantung pada obat - obatan ? Apakah setelah mengonsumsi obat dia benar - benar sembuh ? Jawabannya tidak. Karena begitu obat berhenti, dia sakit lagi. Berapa banyak dokter hanya bertanya ‘sakit apa’ lalu berkata ‘ini obatnya’ ? Dia tidak memberikan pendidikan atau menjelaskan asal usul penyakit. Pasien juga bego, padahal dia harusnya memahami perannya dalam menciptakan penyakitnya,” jelas dr. Tan.

Sebagai ganti resep, dr. Tan memberikan pencerahan tentang gaya hidup sehat yang harus dijalani setiap orang. "Saya yakin semua dokter tahu bahwa diabetes, stroke, dan kanker adalah penyakit gaya hidup. Tapi pertanyaannya, seberapa jauh seorang dokter mau fight untuk memperbaiki gaya hidup pasiennya ? Karena, penanganan pertama pasien seharusnya perubahan gaya hidup. Bila gagal, baru obat - obatan boleh dicoba.”

Dr. Tan mencontohkan, pasien yang sakit lutut akan disuruh minum obat, dioperasi, atau diganti tempurung lututnya. Padahal, titik beratnya adalah bobot tubuhnya. Jika si Pasien mengubah pola makan dan gaya hidup, berat badannya susut dan keluhan lututnya akan hilang. “Ibaratnya, mobil Mercedes pasti turun mesin kalau diisi bensin bajaj. Coba ganti dengan bensin super, pasti larinya kencang.”

Perubahan pola makan yang dianjurkan dr. Tan mungkin terdengar ekstrem. Ia mengimbau pasiennya untuk berhenti mengonsumsi gula, terigu, nasi, dan pati ( singkong, kentang, ubi, jagung, talas ). Pasalnya, di dalam tubuh, jenis makanan ini akan diproses 100 % menjadi gula dalam waktu dua jam. Benar, manusia butuh gula untuk energi. Tapi kenaikan kadar gula darah akibat empat jenis makanan ini sangat cepat, mengakibatkan insulin melonjak untuk menekan
kenaikannya. Bersama insulin, keluar pula hormon eicosanoid buruk. Akibatnya, pembuluh darah menyempit, darah kental, daya tahan buruk, tubuh ‘memelihara’ bakteri, jamur, kista, tumor, dan kanker, serta timbul nyeri.

Sebagai ganti nasi, ia meresepkan : satu ikat selada mentah atau dua cangkir brokoli setengah matang, 2 putih telur rebus, 2 tomat, 2 mentimun, setengah avokad, apel, atau pear. Dengan makanan ini, tak ada sisa gula yang tersimpan menjadi lemak. Kadar gula darah sebelum dan sesudah makan pun rata - rata sama. Dan, hormon eicosanoid buruk takkan keluar sehingga tak mengundang penyakit. ‘Menu’ ini perlu dilengkapi lauk - pauk yang diolah dengan berbagai cara, asal tidak ditumis atau digoreng.

“Kita makan sayur bukan hanya demi seratnya. Sayur mentah mengandung enzim dengan life force energy yang penting buat tubuh. Inilah pola makan asal yang sesuai fitrah manusia. Siapa bilang tidak makan nasi jadi lemas ? Nenek moyang kita makan sayur dan buah tapi mereka kuat mendaki gunung dan berburu.”

Sakit adalah Introspeksi
Hal lain yang menarik dari dr. Tan adalah gelar M. Hum. Gelar itu didapat setelah ia mengambil pascasarjana filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, tahun lalu. Menurutnya, kuliah S2 filsafat membuatnya memahami manusia secara mendalam dan holistic. Ia juga jadi mengerti ‘dosa ilmu kedokteran’ tentang mekanisasi tubuh manusia.

“Akibat perkembangan ilmu kedokteran – terutama setelah ditemukannya alat pacu dan cangkok jantung, tubuh manusia yang tadinya holistic lalu dipecah - pecah. Kalau kepala sakit yang diobati, ya kepala saja. Kita terlepas dari tubuh, emosi dan kecerdasan spiritual. Tubuh manusia hanya jadi seperangkat mesin. Kalau ada yang salah, kita pergi ke bengkel. Dan, rumah sakitlah bengkel terbesarnya. Betul, badan manusia terlalu kompleks untuk dipegang satu ahli saja. Manusia boleh dipegang beberapa ahli, asal mereka sama - sama sadar bahwa manusia
diciptakan Tuhan. Masalahnya, dokter punya arogansi profesi. Seorang dokter biasanya susah dibilangin dan selalu merasa benar,” tuturnya lugas.

Dr. Tan juga menyanyangkan bila manusia zaman sekarang mati - matian melawan dan
menolak sakit. Padahal, sakit adalah jalan untuk lebih memahami bahwa manusia tak selamanya di posisi atas.

“Sakit adalah introspeksi. Ketika sakit, saya berhenti dan menoleh ke belakang. Apa yang ‘jalan’ dan ‘nggak jalan’ selama ini ? Nah, menjadi sembuh adalah keberhasilan introspeksi dan menemukan cara untuk lebih maju lagi. Tapi bagaimana pasien bisa introspeksi bila tak dibimbing menemukan kesembuhannya dan hanya dininabobokan oleh obat ? Dunia yang mati rasa dan tak mau mengalami sakit adalah dunia yang melarikan diri, mengingkari diri sendiri,” lanjutnya.

Menurut dr. Tan, kita memasuki era kebablasan mengonsumsi obat. Akhirnya, obat dijadikan demand. Setelah demand melambung tinggi, masyarakat digenjot untuk mendapatkan penghasilan lebih yang tak perlu, demi obat. Lihatlah berapa banyak orang yang harus berusaha mati - matian demi keperluan berobat salah satu anggota keluarga.

Selalu Ingin Jadi Dokter
Dr. Tan Shot Yen lahir di Beijing, 17 September 1964 dan dibesarkan di Jakarta.
Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universistas Tarumanegara dan lulus Profesi Kedokteran Negara FKUI pada tahun 1991. Sebagai siswi yang selalu mendapat nilai cemerlang dalam ilmu eksakta, menjadi dokter merupakan impiannya sejak dulu. Baginya, di bidang kedokteran, cara pikirnya yang eksakta bisa menemukan ‘kemanusiaannya’. Dalam diri pasien, ia menemukan benang merah antara fisik, emosi dan spiritual.
"Ketika baru menjadi dokter, saya juga ngaco. Sekadar memberi obat pada pasien.
Lama - lama saya pikir saya cuma perpanjangan pabrik obat,” kenangnya. Lalu ia pelan - pelan lebih menggunakan gaya hidup sehat. Perubahan ini dipicu oleh ayahnya, dr. Tan Tjiauw Liat, tokoh inspiratif yang membuatnya maju untuk melihat apa sebenarnya kebutuhan manusia.

Melihat begitu berapi - apinya dr. Tan saat memberikan pencerahan gaya hidup pada pasien, siapapun mungkin akan bertanya ‘apa tidak capek ?’. “Lebih capek mana dibandingkan dokter yang ditunggangi perusahaan obat dan makanan ? Saya mendapat energi bila melihat pasien sembuh. Mereka memegang kendali atas hidup mereka, tidak dibohongin dokter, dan tidak tergantung obat,” jawabnya.

Dr. Tan mengakui, sepak terjangnya kerap dipandang sebelah mata oleh koleganya.
“Ada yang bilang saya idealis, bahkan mission impossible. Tapi saya yakin, dalam hati kecil mereka mengatakan bahwa perubahan gaya hiduplah jawabannya.
Masalahnya, mereka sendiri tidak menjalani gaya hidup itu. Ini membuat saya sebal. Kalau mereka merasa tidak bisa menjalani gaya hidup sehat, jangan mengecilkan pasien dengan menganggap pasien juga takkan bisa. Pasien yang sudah parah dikasih obat apapun pasti mau. Apalagi cuma disuruh ganti nasi dengan sayur.”

Keluarga Terpengaruh
Pola makan asal yang meniadakan gula, terigu, nasi, pati dan susu yang dijalani dr. Tan juga dilakukan oleh suami – Henry Remanleh – dan anak tunggalnya, Cilla.
Menurut dr. Tan, mereka tidak menjalaninya karena terpaksa, tapi karena merasakan manfaatnya. “Putri saya 17 tahun, kadang terpengaruh pola makan temannya. Dia lalu mengeluh susah konsentrasi atau pencernaannya terganggu.
Setelah itu dia back on track. Dia sudah meengonsumsi raw food sejak SMP atas pilihan sendiri. Anak itu mencontoh orang tuanya. Jangan harap anak makan dengan baik kalau Anda sendiri amburadul.”

Suaminya, Henry, adalah kinesiologis yang berkutat dengan masalah gerak dan pengaruhnya terhadap aspek kehidupan manusia. Henry juga instruktur brain gym.
Ia berpraktek di tempat yang sama. Dr. Tan sangat menghargai pekerjaan suaminya karena memberdayakan masyarakat. “Brain gym terbukti bisa meningkatkan konsentrasi. Dengan pola makan sehat sejak kecil dan gerakan olahraga terstruktur, Anda tak perlu lagi minum obat,” katanya tegas.

Selain sibuk berpraktek dan menjadi pembicara talkshow, dr. Tan menjadi contributor untuk tabloid dan majalah kesehatan. Selain itu, ia mengisi waktunya dengan membaca dan membuka jalur continuing medical education melalui internet.
Karena itu, info dan data jurnal ilmiahnya selalu up to date – di samping buku - buku terbaru pemberian ayahnya.

Ia menjalani pilates, terkadang berenang, dan sesekali bermain piano. Kini ia sedang mengumpulkan kisah - kisah kamar praktek untuk dijadikan tulisan inspiratif agar para dokter memandang pasien lebih dari sekumpulan diagnosis.

Wah, sepertinya semangat dalam tubuh mungil ini seolah melonjak - lonjak dan tak
pernah padam. Maju terus dr. Tan !

Selasa, Maret 16, 2010

Rokok, antara makruh dan haram

Nur Hidayat

Muslim yang benar adalah muslim yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah karena dua hal inilah yang diawriskan Rasulullah kepada umatnya untuk hidup dengan benar dunia dan akherat. Namun demikian, kadang betapa sukarnya melaksanakan hal tersebut. Dengan berbagai alasan sering kita menjadi ingkar terhadap sunnah bahkan sering pula ingkar terhadap Al Qur’an. Banyak kejadaian yang sebenarnya wujud pengingkaran kita pada sunnah dengan dibalut berbagai alasan termasuk dengan balutan kata ijtihad.
Suatu conton yang baru saja kita lihat. Muhammadiyah baru saja mengeluarkan fatwa haramnya merokok, mengikuti apa yang telah dilakukan oleh banyak Negara Islam. Tapi Indonesia memang bukan Negara Islam sehingga fatwa bukanlah hokum. Fatwa adalah hokum bagi pengikutnya. Sedang yang bukan Islam mestinya tidak perlu bingung. Hanya karena kepentingan bisnis yang terganggu saja maka mereka menentang atau mendukung.
Yang aneh, justru pertentangan datang dari umat Islam sendiri, bagi yang setuju menyatakan akhirnya Muhammdiyah sadar juga. Bagi yang tidak setuju lebih banyak lagi alasan yang dikemukakan, mulai dari menyatakan tidak adanya ayat Al Qur’an dan Hadits yang menyebutkan tentang rokok. Adapula ulama yang menyatakan belum ada bukti bahwa merokok menyebabkan kanker seperti yang tertulis dalam bungkus rokok. Mereka berdalih dengan ungkapan yang lucu bagi mereka yang memahami pengetahuan. Ulama tersebut mengatakan tidak semua penderita kanker adalah perokok dan tidak semua perokok adalah penderita kanker. Jadi beliau simpulkan rokok bukanlah penyebab kanker.Beliau nampaknya lupa makna tulisan merokok dapat menyebabkan kanker, kata dapat bukanlah berarti harus.
Ada sebuah kisah nyata yang terjadi. Seorang ibu menderita kanker stadium 3. Ibu tersebut bersuamikan dokter anak-anaknya dokter, menantunya juga dokter dan tidak satupun yang merokok. Apakah ini berarti rokok bukan penyebab kanker? Cerita inikemudian berkembang, dicarilah siapa perokok disekitarnya. Ternyata di kantor tempat ia bekerja sang pemimpinnya adalah perokok berat. Sehingga ia terkena dampak (sebagai peroko pasif), sang pemimpin ini merasa bersalah dan ia minta maaf. Pihak keluarga mengatakan, bukan salah bapak, mungkin itumemang kehendak Allah. Hanya teman pemimpin tadi menasehati, berhentilah merokok agar tidak ada korban akibat rokok anda.
Haram artinya berdosa jika mengkonsumsinya. Muhammadiyah menyatakan haram bagi setiap warganya dan dalam setiap pertemuan berlabel Muhammadiyah, uniknya ada juga cabang yang menyerahkan keputusan pada warganya dan tidak mengikat. Nampaknya pimpinan cabang ini takut kehilangan jamaah atau dibrontak warga yang sebagian besar petani tembakau. Padahal tidakada hubungan haramnya rokok dengan larangan menanam tembakau. Tembakau dapat ditanaman bukan untuk rokok tapi dapat digunakan untuk produksi biopestisida suatu pemanfaatan yang sangat baik dan tidak bahaya. Semoga Muhammadiyah yang mengharamkan mampu memberi solusi ini sehinga dukungan semakin kuat.
Makhruh artinya boleh namun sebaiknya tidak dilakukan dengan alasan2 ilmiah dan bukan agama. Makhruh boleh dilakukan untuk umat pada umumnya sedang ulama lebih dekat kearah haram agar umay tidak mengkonsumsinya. Dalam hal rokok ternyata para kyai banyak yang justru merokok disaat berceramah di dalam masjid pula. Kenapa perbuatan makruh dicontohkan? Dan salahkan umat jika mencontoh pemimpinnya?
Andai anda tidak sepaham dengan haramnya rokok setidaknya janganlah merokok di tempat umum karena banyak pula yang terganggu. Rasulullah pernah melarang orang yang habis makan bawang shalat di masjid. Ini karena bau bukan bawangnya, dia boleh shalat dirumah. Apalagi rokok yang jelas sering mengganggu orang lain.
Semoga ada keasadaran diantara kita untuk hiduplebih sehat, baik secara fisik atau nurani.