Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 13, 2012

al Qur'an untuk yang bertakwa

Selama ini kita selalu mengatakan bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia baik yang beriman ataupun yang tidak. Hal ini sering dikaitkan oleh keyakinan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang dibawa oleh Nabi akhir Jaman yaitu Rasulullah SAW. Benarkah demikian?

Dalam Al Qur’an mungkin kita menemukan banyak penjelasan dan saya juga bukan ahli tafsir. Hanya saya akan lebih memfokuskan pengertian awal yaitu sebagaimana tertera dalam Al Qur’an Al Baqarah ayat 2: “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

Disini kita sebagai umat Islam sudah semestinya tidak ragu sedikitpun terhadap kandungan Al Qur’an dan menjadikannya sebagi petunjuk. Sayangnya kadang kita lebih sering menjadikan Al Qur’an sebagai bacaan atau hafalan untuk memperoleh pahala dan bukan menjadikannya petunjuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita banyak mengandalkan kemampuan diri atau bantuan orang lain. Kita lebih kagum pada kata-kata para motivator dibandingkan dengan apa yang teedapat dalama Al Qur’an. Dan hanya orang – orang yang bertakwalah yang menggunakan Al Qur’an sebagai petunjuk. Siapa orang yang bertakwa itu? Al Qur’an menyebutkan dalam banyak ayat. Namun setidaknya dapat kita lihat di ayat berikutnya: (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka (Al Baqarah:3) .

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada yang gaib. Suatu halyang sering diabaikan oleh orang-orang yang merasa dirinya adalah orang berpengetahuan atau sering menyebut dirinya orang cerdik pandai. Allah adalah hal yang gaib begitu juga dengan apa yang ditakdirkan kepada kita. Hanya mereka yang menggunakan hatinya yang mampu mendalami dan meyakini bahwa apa yang ada adalah bagian dari hal yang gaib. Ini memiliki implikasi bahwa orang yang bertakwa selalu penuh harap dan do’a. ia tidakmenjadi sombong terhadap apa yang ia peroleh karena ia yakin semua adalah atas kehenda-Nya. Oleh sebab itu sangatlah wajar kalau cirri orang beriman yang kedua adalah mereka yang mendirikan shalat.

Orang mukmin yang mendirikan shalat pada hakekatnya adalah mereka yang mempercayai hal yang gaib dan menjadikan Al Qur’an sebagi petunjuknya. Mendirikan shalat hanya dilakukan oleh mereka yang benar-benar yakin. Mereka tidak sekedar menjalankan ibadah shalat semata tapi menjadikan shalat sebagai langkah hidupnya. Ia benar-benar melangkah dari apa yang ia do’akan dalam shalat atau sesudahnya kemudian melakukan kehidupan. Ia menyempurnakan shalatnya dengan shalat sunah. Sehingga alangkah anehnya jika kita menyebut diri sebagai orang bertakwa tapi lalai dalam shalat termasuk shalat sunah di dalamnya. Hanya orang-orangyang berimanlah yang mampu melakukan shalat sunah. Banyak dari kita tidak melaksanakan shalat sunah dengan anggapan itukan bukan wajib jadi kita tidak harus melaksanakan. Sama dengan ketika ditegur bahwa merokok itu tidak baik, maka ia bilang kan merokok itu makruh kenapa saya harus meninggalkan kan bukan haram?

Tingkatan kita dalam bertakwa menunjukkan sejauh mana kita melaksanakan yang sunah dan meninggalkan yang makruh. Tingkat yang rendah adalah yang hanya menjalankan yang wajib dan meninggalkan yang haram dengan tidak melaksanakan yang sunah. Semoga kita tidak lebih rendah dari itu.

Setelah ada kesadaran bathin sehingga mampu mendirikan shalat maka langkah tersebut akan dicerminkan dalam keikhlasan dalam bersedekah dari rizki yang kita terima. Rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya menjadikan kita suka bersedekah karena kita yakin semua adalah dari Allah dan dalam harta kita ada bagian dari orang miskin. Itulah bukti kita sebagai insan yang bertakwa.

Maaf bila ada yang tidak berkenan dan sekali lagi ini bukanlah tafsir tapi pencerahan diri untuk menjadi lebih baik dengan memahami dan mengamalkan ayat-ayat dari Allah SWT yang tertulis dalam Al Qur’an.

wassalam

Selasa, September 27, 2011

Faedah-faedah Menyambung tali silarurrahim

  1. Menjadikan Allah sebagai penyambung antara keduanya
  2. menjadi sebab masuk ke dalam syurga
  3. sebagai bentuk menjalankan perintah Allah (QS Ar Raad)
  4. Bukti beriman kepada Allah
  5. Termasuk amalan yang dicintai Allah
  6. melaksanakan wasita Rasulullah SAW
  7. menjadikan panjang umur dan lapang rizqi
  8. pahala di dunia disegerakan dan disimpan untuk akherat
  9. akhlaq yang afdol

Minggu, Februari 20, 2011

Keutamaan Shalat berjamaah

dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat" (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Islam mengajarkan pada umatnya untuk menjalin kebersamaan, menghilangkan sifat individualis.
shalat berjamaah menjadikan kita saling kenal dengan tetangga
shalat berjamaah menjadikan kita mau dipimpin
dalam shalat berjamaah seorang pimpinan (imam) harus tahu kondisi jamaahnya. itulah teladan bagi pimpinan
makmum boleh menegur pimpinan dengan cara yang santun, bukan seperi sekarang sedikit2 demo, protes dan seakan pimpinan adalah tempat segala kesalahan dan makmum adalah segala kebenaran.
Dalam shalat berjamaah makmum harus merapatkan shaf, bukan saling gontok2an seakan ia yang paling berhak dalam barisan shaf.
Ah ..................
andai kegiatan shalat berjamaah diterapkan dalam kehidupan keseharian kita,mungkin negeri ini, akan damai dan Islam benar2 sebagai rahmatan lil alamin
semoga.........

Sabtu, Desember 04, 2010

menjelang tahun baru

tak terasa tahun baru hijriah akan muncul.
saya katakan tak terasa karena hampir tak ada gemanya sedikitpun baik dari umat Islam ataupun yang lain.
Mungkin ini disebabkan adanya pemahaman bahwa memperingati tahun baru adalah bid'ah bahkan ada yang mengatakan itu adalah manifestasidari penyembahan terhadap dewa api.

sayangnya....
diantara kita ternyata tetep saja asyik denan meringatan tahun baru masehi dan bahkan telah mempersiapkan segala rencana.
umat kita memang beragam.....
maka sayapun tidaklah heran ketika berbagai hari penting selalu jadi perdebatan.

ketika para wali memasukkan ajaran Islam, beliau2 menyatukan dengan budaya. mungkin oleh para ulama jaman sekarang para wali ini akan dianggap sebagai pewaris ahli bid'ah.
segampang itukah kita menuduh?
akankah Islam akanberkembang pesat diIndonesia tanpa upaya keras para wali?
kini
ketika Islam telah mengakar di bumi pertiwi
justru perpecahan muncul
banyak yang begitu garang, seakan hanya ia yang paling benar
banyak yg saling menyalahkan seakan takada kebenaran selaindari dirinya
tidak adakah ruang berbagi?
katanya kita selalumengucapkan basmallah setiap akan berbuat yang maknanya selalu dengan aksih dan sayang
lalu dimana kasih dan sayang kita?
jika setiap tindakan, kita selalu menyakiti yang lain?
aku tetap tak dapat mengerti
bahwa saudara-sauaraku seakan lebih hebat keislamanya dibandingan dengan Rasulullah, para sahabat, tabiin dan wali sehingga mereka dapat berbuat menyakit pada sesama dan juga yang lain agama
semoga datangnya tahun baru ini menjadikan islam sebagai agama rakhmatan lil alamain bukan agama yang menyakiti segenap ciptaan Allah.
amiin

Selasa, Maret 16, 2010

Rokok, antara makruh dan haram

Nur Hidayat

Muslim yang benar adalah muslim yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah karena dua hal inilah yang diawriskan Rasulullah kepada umatnya untuk hidup dengan benar dunia dan akherat. Namun demikian, kadang betapa sukarnya melaksanakan hal tersebut. Dengan berbagai alasan sering kita menjadi ingkar terhadap sunnah bahkan sering pula ingkar terhadap Al Qur’an. Banyak kejadaian yang sebenarnya wujud pengingkaran kita pada sunnah dengan dibalut berbagai alasan termasuk dengan balutan kata ijtihad.
Suatu conton yang baru saja kita lihat. Muhammadiyah baru saja mengeluarkan fatwa haramnya merokok, mengikuti apa yang telah dilakukan oleh banyak Negara Islam. Tapi Indonesia memang bukan Negara Islam sehingga fatwa bukanlah hokum. Fatwa adalah hokum bagi pengikutnya. Sedang yang bukan Islam mestinya tidak perlu bingung. Hanya karena kepentingan bisnis yang terganggu saja maka mereka menentang atau mendukung.
Yang aneh, justru pertentangan datang dari umat Islam sendiri, bagi yang setuju menyatakan akhirnya Muhammdiyah sadar juga. Bagi yang tidak setuju lebih banyak lagi alasan yang dikemukakan, mulai dari menyatakan tidak adanya ayat Al Qur’an dan Hadits yang menyebutkan tentang rokok. Adapula ulama yang menyatakan belum ada bukti bahwa merokok menyebabkan kanker seperti yang tertulis dalam bungkus rokok. Mereka berdalih dengan ungkapan yang lucu bagi mereka yang memahami pengetahuan. Ulama tersebut mengatakan tidak semua penderita kanker adalah perokok dan tidak semua perokok adalah penderita kanker. Jadi beliau simpulkan rokok bukanlah penyebab kanker.Beliau nampaknya lupa makna tulisan merokok dapat menyebabkan kanker, kata dapat bukanlah berarti harus.
Ada sebuah kisah nyata yang terjadi. Seorang ibu menderita kanker stadium 3. Ibu tersebut bersuamikan dokter anak-anaknya dokter, menantunya juga dokter dan tidak satupun yang merokok. Apakah ini berarti rokok bukan penyebab kanker? Cerita inikemudian berkembang, dicarilah siapa perokok disekitarnya. Ternyata di kantor tempat ia bekerja sang pemimpinnya adalah perokok berat. Sehingga ia terkena dampak (sebagai peroko pasif), sang pemimpin ini merasa bersalah dan ia minta maaf. Pihak keluarga mengatakan, bukan salah bapak, mungkin itumemang kehendak Allah. Hanya teman pemimpin tadi menasehati, berhentilah merokok agar tidak ada korban akibat rokok anda.
Haram artinya berdosa jika mengkonsumsinya. Muhammadiyah menyatakan haram bagi setiap warganya dan dalam setiap pertemuan berlabel Muhammadiyah, uniknya ada juga cabang yang menyerahkan keputusan pada warganya dan tidak mengikat. Nampaknya pimpinan cabang ini takut kehilangan jamaah atau dibrontak warga yang sebagian besar petani tembakau. Padahal tidakada hubungan haramnya rokok dengan larangan menanam tembakau. Tembakau dapat ditanaman bukan untuk rokok tapi dapat digunakan untuk produksi biopestisida suatu pemanfaatan yang sangat baik dan tidak bahaya. Semoga Muhammadiyah yang mengharamkan mampu memberi solusi ini sehinga dukungan semakin kuat.
Makhruh artinya boleh namun sebaiknya tidak dilakukan dengan alasan2 ilmiah dan bukan agama. Makhruh boleh dilakukan untuk umat pada umumnya sedang ulama lebih dekat kearah haram agar umay tidak mengkonsumsinya. Dalam hal rokok ternyata para kyai banyak yang justru merokok disaat berceramah di dalam masjid pula. Kenapa perbuatan makruh dicontohkan? Dan salahkan umat jika mencontoh pemimpinnya?
Andai anda tidak sepaham dengan haramnya rokok setidaknya janganlah merokok di tempat umum karena banyak pula yang terganggu. Rasulullah pernah melarang orang yang habis makan bawang shalat di masjid. Ini karena bau bukan bawangnya, dia boleh shalat dirumah. Apalagi rokok yang jelas sering mengganggu orang lain.
Semoga ada keasadaran diantara kita untuk hiduplebih sehat, baik secara fisik atau nurani.

Minggu, Januari 31, 2010

Membaca dan membaca


Membaca adalah jendela pengetahuan. Dengan membaca maka kita akan dapat mengetahui apa yang memang ingin kita ketahui. Tanpa membaca mungkin dunia kita akan teras sempit karena banyaknya yang tidak kita ketahui atau kita menjadi sombong karena kita tidak tahu bahwa ada yang jauh lebih besar dari yang kita kenal.

Begitu juga dalam beragama. Ayat pertama yang diturunkan pada Rasulullah SAW adalah Iqra’ (bacalah). Umat Islam diwajibkan membaca. Sayangnya makna membaca sering dianggap sekedar membaca tanpa makna. Akankah kita menganggap diri kita membaca kalo tidak tahu yang kita baca?

Dari Abu Umamah ra.a, dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al Qur’an itu akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi orang-orang yang senang membacanya.” (HR Muslim)

Hadits ini sering dimaknai membaca dengan mengerti atau tidak mengerti maknanya akan mendapat pahala. Memang demikian adanya namun menjadi syafaat dapatkan jika tidak memahami dan mengamalkannya, karena setiap surat dalam Al Qur’an yang kita baca dan amalkan akan menjadi syafaat sebagai mana hadits berikut:

Dari Nuwwas bin Sam’an r.a dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Nanti pada hari kiamat akan didatangkan Al Qur’an dan ahlinya yang senang mengamalkan petunjuknya di dunia, didahului dengan surat Al Baqarah dan surat Al Imran yang keduanya saling berbantah mengenai ahli masing-masing (bahwa orang ini adalah ahli yang mengamalkan surat Al Baqarah atau Al Imran).” (HR Muslim).

Membaca, memahami, mengamalkan dan mengajarkan itulah sebaik-baik umat. Sebagaimana sabda rasulullah SAW:

Dari Utsman bin Affan r.a. dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Mengajarkan bukan sekedar mengajarkan baca Al Qur’an namun mengajarkan bagaimana agar semua napas hidup kita dibimbing Al Qur’an.

Mampukan kita melakukannya?

Minggu, Januari 24, 2010

Menolak Fatwa?

akhir-akhir ini masyarakat sering mendiskusikan adanya fatwa MUI atau ulama yang lain, yang umumnya bersifat menolak karena tidak sesuai dengan apa yang sedang merka lakukan atau kerjakan. MUI atau ulama dianggap sebagai mengada-ada.

Seorang ulama adalah penerus Nabi dan sahabat karena di pundak beliau-beliaulah ajaran agama akan tetap tersampaikan. jangan samapi kita menjadi tersesat karena kita merasa lebih tahu padahal tidak tahu.

"Dan Allah sekali kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesuadah Allah memebri petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi, sesungguhnya Allah Maha mengetahu sesgala sesuatu." QS At-Taubah: 115.

memang ada ulama yang mencari sensasi tapi selama mereka menyampaikan kebenaran maka sebenarnya bukan sensai yang mereka sampaikan tapi masalah itu dianggap kelewat batas oleh ulama.

kasus rebounding misalnya tersirat dalam pernyataan boleh untuk yg bersuami, intinya adalah lebih baik memakai jilbab daripada mempertontonkan keindahan untuk yang bukan berhak (mreka katakan keindahan ini kan dari Allah jadi harus kita pelihara lalu ditontonkan didepan banyak orang untuk mengundang decak kagum)

Aku pernah juga ditanya/ditegurseseorang "jangan kamu larang istri kamu untuk memakai cat rambut"

Aku hanya heran saja kok begitu ya. dan aku hanya jawab: Uban adalah petunjuk bagi orang agar ia sadar bahwa ia sudah tua. buat apa istriku mengecat rambut toh aku lebih bahagia jika ia tidak mengecatnya dan ia juga tidak akan mengecat untuk orang lain karena ia berjilbab. lalu aku beritahu dalil tentang cat rambut.

Msalah pre weeding adalah masalah kholwat dan meotret diri untuk berbangga. namun ulama agak berhati2 sehingga disampaikan setelah bulan2 orang ramai menikah. ulama2 shalaf bisanya tidak memasang goto di rumahnya seperti tidak memasang patung.

semua memang tergantung kita ketika kita menerima petunjuk apakah kita akan selalu membentengi diri kita dari kebenaran Al Qur’an dan Al hadits?