Senin, Maret 31, 2008

INOVASI BAKPIA ; Isi Ampas Tahu, Gizi Tinggi

27/03/2008 05:28:18
KR
BAKPIA isi
kumbu kacang hijau sudah biasa. Tapi kalau bakpia isi ampas tahu, mungkin belum banyak dikenal. Bahkan, banyak yang tidak menyangka ampas tahu yang biasa digunakan untuk pakan ternak bisa menjadi makanan lezat. Hasil uji laboratorium juga menunjukkan makanan ini aman dikonsumsi dan kandungan gizinya cukup tinggi. Bakpia inovasi, isi ampas tahu ini sedang dikembangkan ibu-ibu anggota Kelompok Sendang Mulyo Kampung Dukuh, Gedongkiwo, Mantrijeron dibawah bimbingan Prima Tani Kota Yogya. Ketua kelompok Ira didampingi Ibu Wahono, kepada KR, Rabu (26/3) mengungkapkan inovasi bakpia ampas tahu ini memanfaatkan limbah padat produsen tahu yang ada di sekitarnya. Sekilas tidak ada yang beda dari bakpia isi ampas tahu dengan isi kumbu. Yang membedakan adalah isinya. Untuk menambah kelezatan bakpia ini ibu-ibu menerima pesanan rasa coklat, strawbery, jahe dan nanas. Cara membuatnya pun sama dengan bakpia biasa. ”Kalau tidak diberitahu banyak yang mengira bakpia biasa. Tapi ketika diberitahu kalau isinya ampas tahu langsung melet dan kaget tidak percaya,” katanya. Sebelum dilempar ke pasaran bakpia isi ampas tahu telah diuji di BPTP Yogya. Selain aman dikonsumsi kandungan gizinya cukup tinggi, yakni protein 5 persen, lemak 9,1 persen dan serat 9,1 persen. Kandungan serat yang tinggi ini sangat membantu kelancaran pencernaan. Namun karena belum banyak yang mengenal kue ini masih berimej buruk. ”Ampas tahu khan identik dengan tempe gembus dan pakan sapi. Padahal jika diolah bisa menjadi makanan bergizi,” ujar Detaser Prima Tani Kota Yogya, Antal Sutrisno. *Bersambung hal 27 kol 1 Harga jualnya pun relatif murah dibanding bakpia isi kacang hijau. Ketika harga kacang hijau meroket ampas tahu bisa dijadikan alternatif. Untuk mendapatkannya pun cukup mudah. Sedangkan harga jual tergantung dari rasanya antara Rp 7.500-10.000 per dos isi 10 biji. Bakpia isi ampas tahu ini merupakan salah satu program dalam Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian yang digagas oleh Departemen Pertanian Pusat. Namun karena terkendala pemasaran tidak setiap hari ibu-ibu berproduksi. Biasanya mereka berproduksi jika ada pesanan atau kegiatan. Dalam setiap kegiatan formal maupun non formal pihaknya sengaja menyuguhkan bakpia isi ampas tahu disandingkan dengan kue-kue lain. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk memasyarakatkan dan menghilangkan imej buruk. Selain rasanya tak kalah dari bakpia kacang hijau juga bermanfaat untuk kesehatan. (Anik Puspitosari)-n
sumber: http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=157197&actmenu=35

Jumat, Maret 28, 2008

NDOFOOD RISET NUGRAHA 2008 DILUNCURKAN DENGAN 10 FOKUS PENELITIAN

Sumber: www.indofood.co.id

Jakarta, 13 Maret 2008. PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (Indofood) kembali mengundang para akademisi bersama bergandeng tangan untuk mengambil langkah konkret mencari solusi yang mengancam bangsa kita saat ini, yaitu krisis pangan. Salah satu langkah strategis adalah mencermati masalah ini secara obyektif dan ilmiah melalui riset-riset yang berbobot dalam program Indofood Riset Nugraha (IRN) 2008.

INDOFOOD RISET NUGRAHA merupakan kelanjutan dari program Bogasari Nugraha yang telah berlangsung sejak tahun 1998. Melalui program ini Indofood memberikan bantuan dana penelitian kepada kalangan akademisi baik mahasiswa maupun dosen berbagai strata dari perguruan tinggi negeri & swasta di seluruh Indonesia.

Setiap tahun tema yang diangkat berbeda, disesuaikan dengan kondisi dan isue aktual yang terjadi di masyarakat. Adapun tema tahun ini adalah "Penganekaragaman Pangan Berbasis Sepuluh Komoditi Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Perbaikan Gizi". Fokus Penelitian untuk IRN 2008 ini meliputi 1. Singkong (Manihot sp.), 2. Kelapa Sawit (Elaeis sp.), 3.Sagu (Metroxylon sp), 4. Jagung (Zea mays sp.), 5. Gandum/ Terigu (Triticum sp.),. 6. Pisang (Musa sp.), 7. Ubi Jalar (Ipomoea sp.), 8. Garut (Marantha sp.), 9. Kentang (Solarium sp.) dan 10. Kedelai (Glycine spp).

Wakil Direktur Utama Indofood, Franciscus Welirang menyatakan bahwa sebagai salah satu perusahaan pangan terbesar di Indonesia, Indofood peduli pada pengembangan dunia pangan. Lewat program inilah diharapkan dapat ikut mendorong lahirnya riset-riset unggul bagi kepentingan masyarakat, khususnya dalam upaya penganekaragaman pangan guna mencapai ketahanan pangan nasional. Program riset yang dilakukan oleh peserta IRN ini merupakan suatu riset publik, bukan company research yang berarti apa yang mereka hasilkan terbuka kepada publik. "Kami memang peduli dan memiliki komitmen untuk memacu pengembangan riset di kalangan akademisi khususnya di bidang penganekaragaman pangan. Menurut pendapat kami, tidak ada inovasi dan kreativitas tanpa riset. Tidak ada program pengembangan yang baik tanpa riset yang baik", kata Franciscus Welirang.

Kerjasama dengan Para Pakar

Dalam pelaksanaannya Indofood bekerjasama dengan para pakar terkemuka dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki reputasi nasional dan internasional. Mereka adalah F.G Winarno (Prof. PhD. Teknologi Pangan) selaku Ketua Tim Penilai dengan para anggota yaitu Bayu Krisnamurthi (Dr, M.S., Ir, Sosial Ekonomi Pertanian), Bustanul Arifin (Prof, Dr,Ir, Sosial Ekonomi Pertanian), Budi Prasetyo Widyobroto (Dr, DESS., DEA, Ir,Peternakan), Eko Handayanto (Prof, Dr, Msc., Ir, Budidaya Pertanian), Abdurrachim Halim (Dr, Ir, Teknik Mesin) Widjaya Lukito (PhD, dr, SpGk, Gizi dan Kesehatan) serta Purwiyatno Hariyadi (PhD, Msc., Ir,Rekayasa Proses Pangan).

Terus Meningkat

Sejak digulirkan pada 1998, terjadi peningkatan antusiasme para mahasiswa, dosen dan peneliti, baik perorangan maupun kelompok. Mulai dari hanya 28 proposal yang masuk pada 1998, kini lebih dari 300 proposal dikirimkan ke Sekretariat Panitia. Dalam IRN 2006 lalu, sebanyak 1.025 proposal telah diterima oleh Panitia IRN dan setelah melewati proses seleksi akhirnya terpilih 34 mahasiswa, dosen dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang berhak menerima bantuan dana penelitian dari Indofood.

Audit

Para penerima Indofood Riset Nugraha ini tdak hanya menerima bantuan dana penelitian begitu saja, tapi memiliki kewajiban unyuk mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya lewat presentasi di depan Tim Penilai dalam Audit IRN. Audit ini merupakan syarat mutlak bagi para penerima dana IRN dimana mereka harus mempresentasikan sejauh mana kemajuan proyek penelitian yang dibiayai oleh Indofood. Dalam audit ini akan diketahui apakah penerima Indofood Riset Nugraha benar-benar melakukan penelitian sesuai jadwal yang telah mereka susun sebelumnya.

Program IRN ini, menurut Prof. F.G. Winarno, PhD merupakan satu-satunya program riset publik yang dilakukan oleh pihak swasta secara konsisten setiap tahunnya. Perhatian Indofood ini jelas merupakan angin segar bagi dunia penelitian di Indonesia. "Meskipun tema dari program ini adalah penganekaragaman pangan namun cakupan aspeknya cukup luas yang meliputi teknologi & produksi, kesehatan & gizi masyarakat sosial ekonomi & budaya serta bidang penelitian khusus. Oleh karena itu, kami mengundang para akademisi untuk memanfaatkan kesempatan ini", ujar Winarno mengakhiri pembicaraan.

Kamis, Maret 27, 2008

PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK ; Warga Dilalui Jaringan, Wajib Pasang

27/03/2008 05:28:18
YOGYA (KR) - http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=157187&actmenu= 
Jika sebelumnya bukan merupakan kewajiban, saat ini warga Kota Yogyakarta yang huniannya dilalui jaringan air limbah domestik terpusat akan diwajibkan untuk menyambung ke jaringan tersebut. Aturan ini diterapkan, salah satunya mengingat kondisi air tanah di Kota Yogya sudah diambang jelek, di mana 80 persennya sudah tercemar bakteri Coli. "Makanya untuk melindungi dan tidak memperparah kondisi air tanah, sehingga kebutuhan air bersih sekaligus pelestarian lingkungan bisa terpenuhi, dibuatkan aturan baru tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik. Raperda mengenai hal ini, sudah masuk ke dewan dan masih dalam pembahasan. Apalagi Perda lama, yaitu Perda Nomor 9 Tahun 1991 tentang Pemeliharaan Assainering sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini," tandas Ika Rostika, Kabid Pengelolaan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta bersama Suyana (Kabid Kebersihan) serta Budi Raharjo (Kabid Alat Perbekalan dan Retribusi) di Balaikota, Rabu (26/3). Dikatakan, dalam revisi tersebut, nantinya tarif langganan perbulan juga akan naik. Karena di Perda lama, dipatok tarif rumah tangga hanya sebesar Rp 500. "Kalau dengan retribusi sebesar itu, dengan 10.085 wajib retribusi (WR) yang saat ini menggunakan jaringan limbah domestik, hanya akan diperoleh pendapatan Rp 105 juta. Padahal biaya pemeliharaan jaringan setiap tahunnya cukup besar mencapai Rp 1,4 miliar," jelas Budi. Untuk itu, jika Raperda tersebut telah disetujui, retribusi untuk rumah tangga yang bangunannya di bawah 100 meter persegi dengan penghuni 1-5 jiwa akan dikenai pungutan Rp 3 ribu perbulan. Sedangkan tarif tertinggi dipatok Rp 110 ribu. Dengan patokan angka-angka tersebut, diharapkan seluruh pembiayaan penyelenggaraan jasa pengelolaan limbah di kota bisa terkaver. (Ret)-f Budi menjelaskan potensi WR yang akan menyambung jaringan sebanyak 13 ribu WR. Sedangkan kapasitas pipa jaringan yang saat ini tersedia bisa menampung 21 ribu WR. "Memang perlu waktu dan tidak ringan untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya pengelolaan air limbah," sambung Ika. Ditambahkan, sistem penarikan retribusi yang selama ini melalui door to door, agar lebih efektif juga akan diganti dengan melakukan kerjasama dengan wilayah setempat, seperti PKK, RT/RW atau Karang Taruna. (Ret)

Rabu, Maret 26, 2008

Warga Sambut Wisata Kawasan Industri Alkohol

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=156332&actmenu=38
18/03/2008 08:57:56
PURWOKERTO (KR) -
Gagasan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Banyumas yang mewacanakan kawasan perajin minuman keras/ciu di Desa Wlahar Kecamatan Wangon Banyumas menjadi pusat pengembangan wisata Kawasan Industri Alkohol Rakyat mendapat sambutan positif masyarakat dan aparat pemerintah setempat. Kades Wlahar Jasmin, kepada wartawan, Sabtu (15/3) mengaku mendukung adanya upaya pengembangan wisata oleh Disparbud Banyumas dengan membuat Wlahar sebagai pusat wisata industri alkohol rakyat. "Kerajinan pembuatan alkohol rakyat atau ciu merupakan kegiatan home industry sejak zaman penjajahan Belanda. Jadi ini kerajinan turun temurun dari para leluhur. Jumlah perajin sekarang lebih dari 100 KK," kata Jasmin. Karena itu niat Disparbud untuk mengembangkan desanya sebagai pusat wisata industri alkohol merupakan hal yang patut disambut gembira. Pasalnya, selain nantinya para turis akan bisa melihat langsung cara pembuatan ciu, juga bakal tumbuh berbagai kebutuhan layanan wisata lainnya, seperti outlet souvenir, warung/restoran atau home-stay/hotel. Hal itu tentu bisa dijadikan sarana penyejahteraan rakyat. Ditanya tentang isu negatif tentang produksi ciu Desa Wlahar yang sering untuk sarana pesta mabuk, Jasmin menegaskan bahwa itu merupakan pengecualian yang harus dilarang. Pembuatan ciu yang hasil produknya tidak untuk diselewengkan, yakni hanya untuk keperluan medis/kesehatan saja, tentu tidak akan menjadi negatif nilainya. "Untuk itu realisasi dari wacana Disparbud kiranya dapat untuk membendung pandangan masyarakat yang negatif tersebut" tandasnya. Hal senada disampaikan Camat Wangon, Sudarso, mengatakan, untuk menjadikan desa wisata industri rakyat yang pertama kali dilakukan haruslah ada legalitas dari pemerintah daerah terlebih dahulu. Selain itu mekanisme penjualan/pemasaran produk alkohol juga harus benar-benar diperuntukkan pada hal-hal yang bermanfaat, misalnya untuk keperluan medis/kesehatan atau untuk memenuhi kebutuhan industri-industri farmasi yang ada. "Jadi jangan sampai produk diperjualbelikan secara bebas ke masyarakat" tandasnya. Setelah posisi home-industry legal, untuk menjadikan Walhar sebagai desa wisata industri rakyat amatlah mudah. (Ero) -c

Selasa, Maret 25, 2008

Fermentasi Asam Sitrat

  1. Pendahuluan

Asam sitrat merupakan asam organic yang larut dalam air dengan citarasa yang menyenangkan dan banyak digunakan dalam industry pangan. Kebutuhan dunia akan asam sitrta terus meningkat dari tahun ke tahun dan produksi asam sitrat tiap tahun meningkat 2 – 3%. Hingga sampai tahun 1920, semua asam sitrat dihasilkan dari lemon dan jus jeruk. Namun kini asam sitrat juga dapat dihasilkan melalui fermentasi menggunakan mikroorganisme Aspergillus niger, yaitu jamur yang digunakan secara komersial pertama kali pada tahun 1923. Guna memenuhi permintaan yang terus meningkat, maka efisiensi proses ferementasi terus dipelajari. Pengukuran kesetimbangan massa dipelajari agar dpat ditentukan banyaknya substrat yang digunakan dan jumlah produk yang dihasilkan.

Proses fermentasi asam sitrat terdiri dari dua tahap. Pertma fase pertumbuhan miselium dan kedua fase fermentasi pembentukan produk. Keduanya dikarakteristikkan oleh laju penyerapan karbohidrat. Pada fase pertama digunakan untuk pembentukan miselium dan pada tahap kedua karbohidrat diubah menjadi asam sitrat.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi asam sitrat secara fermentasi

    Selain mikrobia sebagai komponen utama dalam fermentasi, factor-faktor pendukung yang perlu diperhatikan adalah komposisi nutrisi media, Mangan dan logam lainnya, pH, kondisi lingkungan, tipe dan konsentrasi gula, pengaruh senyawa pengkhelat terhadap ion logam, ammonium nitrat dan aerasi.

    1. Mikrobia

      Saat ini produksi asam sitrat secara komersial menggunakan mutan Aspergillus niger, dan ada pula yang menggunakan Saccharomyces lipolytica, Penicillium simplicissimum, dan A. foeitidus.

      Untuk meningkatkan kemampuan produksi sering dilakukan proses mutasi. Mutasi yang umum dilakukan adalah dengan iradiasi ultraviolet (1,6 X 102 J/m2/dt) dan nitrosamine (100 mg/ml) selama 5 – 45 menit. Kultur dipelihara dalam medium PDA.

    2. Komposisi Nutrisi Media

      Media fermentasi untuk biosintesis asam sitrat terdiri dari substrat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroorganisme, terutama terdiri dari substrat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroorgaisme terutama sumber karbon, nitrogen dan fosfor. Selain itu air dan udara dapat pula dimasukkan sebagai substrat fermentasi

      1. Sumber Karbon

        Media yang sering digunakan sebagai sumber karbon adalah berbagai karbohidrat dan limbah selulosa, inulin, kurma, molase tebu (digunakan dalam fermentasi kultur cair teraduk), whey kedelai, whey keju, sukrosa, glukosa, fruktosa, methanol.

        Whey dari industry pengolahan susu sering digunakan sebagai medium dasar. Whey dapat ditambah sukrosa, glukosa atau fruktosa sekitar 5 – 10 % (b/v). Jika ditambah methanol berkisar 1 – 5 %. Riboflavin dapat ditambahkan sebesar 10 – 50 mg/L.

        Molase yang digunakan untuk substrat fermentasi biasanya mengandung air 20%, gula 62 %, non-gula 10 % dan garam an-organik (abu) 8 %. Abu mengandung ion-ion seperti Mg, Mn, Al, Fe dan Zn dalam jumlah yang bervariasi. Karena kandungan gula cukup tinggi maka perlu diencerkan sehingga mengandung gula 25%. Larutan molase kemudian ditambah H2SO4 1N sebanyak 35 ml/L dan direbus selama ½ jam kemudian didinginkan, dinetralkan dengan air kapur (CaO) dan dijernihkan semalam. Cairan supernatant yang jernih diencerkan hingga kdar gula mencapai 15%. Selama fermentasi 144 jam dihasilkan asam sitrat sekitar 85 g/l, berat sel kering 20 g/l dan gula yang dikonsumsi 91 g/l.

      2. Sumber Nitrogen

        Nitrogen jug mempengaruhi pembentukan asam sitrat karena nitrogen tidak hanya penting untuk laju metabolit dalam sel tetapi jug bagi pembentukan protein sel. Jumlah produksi asam sitrat mencapai maksimum jika konsentrasi ammonium nitrat sebesar 0,2%. Peningkatan konsentrasi justru menurunkan jumlah asam yang dihasilkan dan jamur tumbuh menyebar.

      3. Sumber Fofor

        Sumber fosfat yang digunakan adalah triklasium fosfat.

      4. Konsentrasi ion Ferosianida

        Konsentrasi ferosianida berpengaruh terhadap produksi asam sitrat. Penambahan ferosianida dilakukan 24 jam setelah inokulasi sebanyak 200 ppm. Jumlah sel yang dihasilkan berkurang dengan naikknya jumlah ferosianida.

      5. Vitamin

        Vitamin yang sering ditambahkan adalah riboflavin.


       

    3. Proses Fermentasi

      1. Fermentor

        Dalam percobaan skala laboratorium sebaiknya digunakan Erlenmeyer 500 ml yang diisi 100 ml medium. Masing-masing Erlenmeyer diinokulasi dengan suspensi spora dan diinkubasi selama 20 hari pada suhu 300C.

        Fermentor stainless stell berkapasitas 15 liter diisi medium 9 liter untuk pembuatan asam sitrat.


     

    1. Persiapan Kultur

      Jika digunakan kultur stok A. niger maka kultur harus direaktivasi dan dikultivasi dengan cara goresan pada petridish menggunakan mediam padat PDA (Potato Dextrose Agar) yang telah diasamkan dengan asam tartart 10% dan diinkubasi selama 5 hari pada suhu 250C. Konidia yang dibentuk kemudian dicuci dua kali dengan air destilat steril. Suspensi konidia yang akan digunakan sebagai inokulum dalam proses fermentasi harus mengandung 108 spora/ml.

      Untuk menumbuhkan konidia Aspergillus digunakan medium molase 100 ml (gula 15%, pH 6,0) dalam Erlenmeyer 1 liter yang bersisi glass bads dan telah disterilkan. 1 ml suspensi konidia dari agar miring dipindahkan secara aseptis, kemudian diinkubasi pada 300
      + 10C dalam incubator dengan kecepatan gojogan 200 rpm selama 24 jam.

    2. Jumlah Inokulum

      Jumlah inokulum yang digunakan jug merupakan factor yang penting untuk diperhatikan. Jumlah inokulum sebesar 1% cukup baik untuk fermentasi dalam fermentor teraduk.

    3. Fermentasi

      Inokulum yang telah dibuat dimaukkan dalam fermentor produksi sebanyak 5% (v/v). inkubasi dilakukan pada suhu 300
      + 10C selama 144 jam. Kecepatan agitasi adalah 200 rpm dengan laju aerasi 1,0 – 4,0 vvm. Untuk mengendalikan terbentuknya buih secara berkala dilakukan penambahan minyak silikom steril.

    4. Waktu Fermentasi

      Waktu fermentasi yang maksimum untuk fermentasi asam sitrat tergantung kondisi fermentasi dan organism yang digunakan. Penggunaan A. niger dengan substrat molase embutuhkan waktu 144 jam setelah inokulasi.


     

    1. Suhu

      Suhu medium fermentasi merupakan salad satu factor yang penting dalam produksi asam sitrat. Suhu 300C adalah suhu yang paling baik. Jika suhu medium rendah, aktivitas enzim jug rendah sehingga mempengaruhi produksi asam tetapi jika suhu meningkat di atas 300C, biosintesis asam sitrat akan menurun dan terjadi akumulasi produk samping seperti asam oksalat.

    2. pH

      Pengaturan pH penting bagi keberhasilan proses fermentasi. Untuk fermentasi asam sitrat pH optimum adalah 6,0. Penurunan pH menyebabkan produksi asam sitrat berkurang. Hal ini disebabkan pada pH rendah ion ferosinida lebih toksik bagi pertumbuhan miselium. Pada pH yang tinggi terjadi akumulasi asam oksalat.


     


 

Daftar Pustaka


 

Ali, S., Ikram-ul-Haq., M.A. Qadeer, and J. Iqbal. 2002. Production of Citric Acid by Aspergillus niger Using Cane Molasses in a Stirred Fermentor. Electronic Journal of Biotechnology Vol 5 No 3.


 

Murad A. El-Holi and Khalaf S. Al-Delaimy. 2003.Citric acid production from whey with sugars and additives by Aspergillus niger. African Journal of Biotechnology Vol. 2 (10), pp. 356-359.

HILDEGARD KIEL,* RUMIA GUVRIN, AND YIGAL HENIS. 1981. Citric Acid Fermentation by Aspergillus niger on Low Sugar Concentrations and Cotton Waste. APPLED AND ENVIRONMENTAL MICROBIOLOGY, JUly 1981, p. 1-4