Tampilkan postingan dengan label metamorfosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metamorfosa. Tampilkan semua postingan

Minggu, November 13, 2011

Bangsa Wirausaha

HD. Iriyanto

(Inspirator Metamorphosis; Dosen STMIK AMIKOM Yogyakarta)

Salam Metamorfosa, Salam Perubahan…

Sabtu malam, 29 Oktober 2011. Bertempat di MT. Haryono Square Jakarta, saya dan beberapa rekan lain dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, diundang untuk menerima anugerah dari PT. Cordova Indonesia. Di backdrop yang berwarna merah putih terpampang tulisan yang menggugah, ‘We Are Entrepreneur Nation.’ Iringan musik yang disajikan sebelum acara dimulai, kental dengan nuansa nusantara. Ada irama Melayu, Sunda, Jawa, dan lain-lain.

Malam itu memang terasa Indonesia banget. Lagu Indonesia Raya berkumandang mengawali acara. Begitu pula lagu-lagu wajib selalu mengiringi acara penganugerahan, saat satu persatu peserta dipanggil untuk tampil di panggung menerima penyematan pin dan karangan bunga. Dalam kata sambutannya, Presiden Direktur PT. Cordova Indonesia, mengungkapkan bahwa apa yang sedang kami lakukan bukanlah sekedar menjalankan bisnis. Tetapi sedang bersama-sama membangun karakter. Yakni membangun karakter sebagai bangsa pengusaha.

Para pembaca yang siap berubah menjadi lebih baik…

Mentransformasi karakter diri sebagai bangsa wirausaha, yang lebih kreatif, lebih ulet dan lebih produktif, memang terasa menjadi kian mendesak. Bukan saja karena rasio jumlah wirausaha dengan jumlah penduduk masih sangat minim, tetapi juga karena selama ini kita terus terlena dan terninabobokkan sebagai bangsa konsumtif. Akibatnya kita terus-terusan menjadi pasar dan sasaran tembak yang empuk bagi produk-produk asing.

Proses transformasi karakter dari pembeli ke penjual, dari konsumtif ke produktif, tentu saja tidak seperti membalik telapak tangan. Ia selalu membutuhkan waktu. Tetapi berusaha untuk meningkatkan akselerasi juga menjadi sebuah pilihan yang mungkin saja kita lakukan. Lalu dari mana proses akselerasi itu kita mulai?

Pertama, tentu saja dari lingkungan keluarga. Mental dan jiwa wirausaha harus terus diajarkan dan diajakkan oleh setiap orangtua kepada anak-anaknya. Sehingga orangtua tidak perlu malu jika, misalnya, anaknya pergi ke sekolah sambil berjualan sesuatu.

Yang kedua adalah lingkungan pendidikan, baik formal maupun non formal. Ini berarti sejak PAUD hingga Perguruan Tinggi, sejak sekolah umum sampai dengan sekolah alternatif, sama-sama memiliki peran yang strategis dalam mewujudkan karakter anak didik sebagai bangsa wirausaha. Dari aspek kurikulum maupun praktek pembelajaran, harus saling menguatkan, agar mental dan jiwa wirausaha menjadi kian dimiliki oleh peserta didik.

Dan yang ketiga harus ditumbuhsuburkan di lingkungan birokrasi pemerintahan dan dunia perbankan. Dukungan dalam bentuk kebijakan atau peraturan yang memberi kemudahan akses permodalan dan pemasaran produk/jasa kepada para wirausaha, harus terus diperkuat secara sungguh-sungguh. Khususnya kepada para wirausaha yang secara riil berupaya untuk mengangkat daya saing produk lokal terhadap produk-produk asing. Dengan demikian, ketika Presiden meminta jajaran TNI untuk melengkapi alutsista (alat utama sistem senjata) dengan produk-produk bangsa sendiri saat berkunjung ke PT. Dirgantara Indonesia, pantas untuk kita beri dukungan sepenuhnya. Keep spirit & be better.

Selasa, Oktober 25, 2011

Pemasaran Iblis

HD Iriyanto

(Inspirator Metamorphosis; Dosen STMIK AMIKOM Yogyakarta)

Salam Metamorfosa, Salam Perubahan…

Hari Jumat pekan lalu, menjadi hari yang cukup istimewa bagi saya. Bukan karena saya mendapatkan undian berhadiah, melainkan karena saya kedatangan tamu yang berilmu. Tamu saya tadi adalah seorang doktor lulusan Timur Tengah, yang sehari-harinya mencurahkan perhatian kepada pengembangan pesantren, dan membina pengembangan bisnis yang dijalankan oleh UMKM.

Di tengah perbincangan yang kami lakukan, saya mendapatkan bahan renungan yang sekarang saya bagikan kepada Anda. Bahan renungan itu kurang lebih bagini. Kalau para pemasar produk atau jasa sukses menawarkan produk atau jasanya yang memiliki kualitas bagus, itu hal yang biasa. Kalau para ustad, kyai, atau ulama sukses memasarkan ajakan atau ajaran berbuat baik, itu juga hal yang biasa. Tetapi kalau iblis sukses memasarkan kesesatan dan kemungkaran kepada manusia, itu baru namanya luar biasa.

Para pembaca yang siap berubah menjadi lebih baik…

Apa yang membuat iblis tersebut sukses? Menurut tamu saya tadi, karena iblis menawarkan kenikmatan atau kesenangan yang bersifat segera atau instan. Sedangkan para nabi dan rasul yang dilanjutkan oleh para ulama, kyai, ustad, dan guru atau dosen lebih banyak menawarkan kebaikan yang dampaknya lebih untuk jangka panjang.

Saya pun teringat dengan berbagai peristiwa yang sering menimpa orang yang hendak mencari pekerjaan, mencari kesembuhan, atau orang yang pengin memperoleh rizqi atau kekayaan dalam waktu singkat. Mereka semua pada umumnya terjebak dan tertipu pada iming-iming jangka pendek. Karena tergiur dengan proses yang cepat, tanpa harus bersusah payah, mereka pun menerima tawaran tersebut, kendati menurut akal sehat iming-iming tersebut sebenarnya termasuk kategori tidak masuk akal.

Cobalah Anda amati iklan-iklan penyembuhan atau seminar-seminar bisnis. Tabib A menawarkan sanggup menyembuhkan berbagai penyakit dalam waktu singkat. Tabib B mengaku bisa membantu mempercepat suami istri yang belum memiliki keturunan, hanya dengan dua kali terapi. Bahkan sampai hari ini di Jogja masih terpampang iklan seminar hypnosis yang nempel di tiang-tiang traffic light, yang menjanjikan kepada orang cara instan untuk menguasai kemampuan hypnosis. Belum lagi yang menggunakan cara gila untuk menjadi pengusaha, atau yang mengajak masyarakat untuk tidak usah takut berhutang.

Ketika pada akhirnya orang mau menerima berbagai penawaran tadi, sebagian dari mereka pun merasa kecewa karena menganggap telah menjadi korban penipun atau kebohongan. Namun anehnya tidak membuat orang kapok. Masih saja datang berbondong-bondong orang yang menginginkan segala sesuatunya dengan cara-cara instan, yakni cara-cara yang (maaf) dipakai iblis untuk menawarkan kemaksiatan, kesesatan, dan kemungkaran.

Hanya orang-orang yang selalu memohon perlindungan Allah SWT dan diikuti oleh keikhlasan untuk mengikuti sunatullah-Nyalah yang akan terbebas dari pemasarannya iblis. Semoga kita menjadi salah satu di antaranya. Keep spirit & be better.