Minggu, November 30, 2008

Training Teknik Analisis Dasar Gravimetri dan Volumetri


Universitas Brawijaya kembali menyelenggarakan Training Teknik Analisis Dasar (Gravimetri dan Volumetri) berbasis kompetensi untuk tenaga laboran dan analis yang telah menjadi agenda tahunan di lingkungan Universitas Brawijaya (UB). Training selama empat hari (17/11-20/11) di Laboratorium Sentral Ilmu Hayati (LSIH) UB itu diberikan oleh oleh Lembaga Sertifikasi Tenaga Laboratorium Penguji Indonesia LIPI-Bandung, sebagai pelatihan lanjutan untuk menambah wawasan kepada para tenaga laboran. Para pemateri dalam training didatangkan langsung dari RC-Chem Learning Center milik Pusat Penelitian Kimia LIPI yang memang berkompeten dalam bidang gravimetri dan volumetri. Para instruktur terdiri dari Tiny Agustini SSi MMS, Dra Evita Boes MS, Mahyar Efendi, Dedeh Maklupah, dan Wartini.
Peserta training sebanyak dari 24 orang, yaitu 5 orang dari Fakultas Pertanian, 5 orang dari Fakultas MIPA, 3 orang dari Fakultas Teknologi Pertanian (Laboran Lab Bioindustri yaitu mbak Yuli ikut), 2 orang dari Fakultas Peternakan, 4 orang dari Fakultas Kedokteran, dan 2 orang dari LSIH UB.
Materi pelatihan terdiri dari teori yaitu pemilihan peralatan dan kalibrasi, teknik menimbang, sistem konsentrasi, pembuatan larutan pereaksi dan standar, teknik analisis volumetri I, teknik analisis volumetri II, dan teknik analisis gravimetri beserta praktikum di laboratorium.
Sebelum dimulai dilakukan pretest, dan pada akhir pelatihan dilaksanakan postest untuk mengetahui kemampuan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan oleh instruktur selama training berlangsung.
Pelatihan teknik analisis dasar (gravimetri dan volumetri) ini merupakan pelatihan yang beorientasi ke arah sertifikasi laboran, sehingga para peserta yang telah mengikuti training ini selain bertambah wawasan dan teknik analisis dasarnya juga mendapatkan sertifikat resmi dari LIPI. Sertifikat LIPI ini diharapkan dapat menunjang kinerja para tenaga laboran di lingkungan UB.
sumber: http://prasetya.brawijaya.ac.id/

Rabu, November 19, 2008

Bu Neneng dan mbak Yuli pelatihan

Setelah Bu Nia selesai mengikuti kursus bahasa Inggris di Surabaya sebagai persiapan studi S3 di Inggris tahun depan, maka pada tanggal 17 - 21 November Mbak Yuli ikut pelatihan laboratorium di Lab Sentral Ilmu hayati.
Bu neneng ikut AA sampai tanggal 26 November agar cara ngajarnya makin bagus.
semoga semua yang ikut pelatihan sukses.
amiin.

Kamis, November 06, 2008

Pelatihan Teknik Analisis Dasar

Saat ini LSIH-UB juga sedang mempersiapkan diri untuk sertifikasi tenaga laboran berikutnya dengan mengadakan Pelatihan Teknik Analisis Dasar (Gravimetri dan Volumetri) Berbasis Kompetensi, pada 17-20 November 2008. Dalam hal ini LSIH-UB bekerja sama dengan RC-Chem Learning Centre LIPI Bandung.
Pelatihan digelar di LSIH-UB dengan 24 orang peserta. Dari lingkungan UB sebanyak 21 orang, dan instansi lain 3 orang. Ke-24 peserta itu masing-masing 5 orang dari FP-UB, yaitu Rina Megawati dan Titik Nurhidayati (Budidaya Pertanian), Wahyu Indrayanto (Ilmu Tanah), Catur Prabowo Widodo AMd dan Tomo Agus S AMd (Hama dan Penyakit Tumbuhan), 5 orang dari FMIPA-UB, yakni Bambang Arianto SSi dan Nur Yusrina (Kimia), Nanik Dwi Rahayu SSi, Yusuf Rifa’i dan Sugiono (Biologi), 3 orang FTP-UB yaitu Luluk Mamluhah SSi, Sutrisno ST, dan Yuli Erna Widyasari AMd, 2 orang dari LSIH-UB, 2 orang dari Fapet-UB, 4 orang dari FK-UB, 2 orang dari Unit Laboratorium Terpadu Politeknik Negeri Jember, dan 1 orang Fakultas Teknologi Hasil Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

Selasa, Oktober 28, 2008

Beasiswa Chevening 2009/2010

Dear Rekan-Rekan sekalian,
Bagi Rekan yang ingin melanjutkan pendidikan Master di Inggris, telah dibuka pendaftaran untuk Beasiswa Chevening 2009/2010 dari pemerintah
Inggris. Jika ada di antara Rekan berminat mendapatkan beasiswa ini, silahkan mengunjungi situs www.chevening. or.id untuk mendapatkan
keterangan lebih lanjut mengenai syarat dan formulir aplikasi. Batas penyerahan aplikasi tanggal 30 November 2008. Jika ada yang ingin
ditanyakan, silahkan mengirimkan email ke chevening@britishco uncil.or. id. Semoga Rekan sekalian bisa
berpartisipasi tahun ini. Terima kasih.




Maddy Rochanda Pertiwi
UK Education Team


British Council

Lubang Resapan Biopori Sebagai Alternatif Penanganan Limbah Organik (Sampah)


Oleh: Sri Suhartini, STP. M.Env.Mgt


 

Lubang Resapan Biopori (LRB) merupakan salah satu teknologi tepat guna yang bermanfaat untuk mengatasi permasalahan sampah organik dan juga genangan air di Indonesia. Lubang ini berbentuk silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 - 30 cm dan kedalaman sekitar 100 cm. Teknologi LRB diciptakan oleh Ir Kamir R. Brata, MSc dari Bagian Konservasi Tanah dan Air, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Upaya sosialisasi inovasi teknologi LRB mendapat dukungan dari berbagai pihak. Tidak tanggung-tanggung, beberapa pemegang kekuasaan di Indonesia juga turut andil dalam kegiatan sosialisasi inovasi teknologi LRB ini. Sebut saja, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mulai membuat lubang resapan Biopori di kediamannya. Menteri Lingkungan Hidup (LH) Rachmat Witoelar juga ikut andil dalam memberikan dukungan penuh terhadap program sosialisasi LRB di seluruh Indonesia.

Saat ini, LRB mulai banyak diterapkan di beberapa kota besar di Indonesia. Pemerintah Provinsi Kota Jakarta, misalnya, telah membuat sebanyak 17 ribu LBR dari target 78 juta lubang (Tempo Interaktif, 2008). Demikian juga Pemkot Kota Bogor yang menargetkan pembuatan sebanyak 22.400 LBR di 68 kelurahan dimulai sejak peringatan Hari Bumi 22 April 2008 (Sinar Harapan, 2008).

Pada prinsipnya, teknologi LRB sangat mudah untuk diterapkan karena pembuatannya yang sederhana, tidak memerlukan lahan yang luas, dan dapat dibuat dimana saja seperti halaman rumah, perkantoran, di dasar saluran air (got), batas antara tanaman dan teras, atau pada tanah lapang berumput. Selain itu, biaya yang dibutuhkan relatif sedikit yaitu Rp 175.000 untuk membeli alat bor Lakonserva buatan IPB, sehingga masyarakat bisa langsung membuat LRB di halamannya.

Salah satu kemampuan dari LRB ini, selain dapat mengurangi resiko terjadinya banjir, adalah mengubah sampah organik menjadi kompos. Hal itu disebabkan karena sampah dalam LRB akan diurai oleh mikroorganisme melalui proses dekomposisi menjadi kompos. Menurut William (2005), kompos merupakan hasil akhir perombakan limbah organik, termasuk limbah makanan, yang kaya akan kandungan bahan organik (seperti N, P, dan K). Mekanisme pengomposan yang terjadi dalam lubang ini hampir sama dengan proses pengomposan pada umumnya.

Pengomposan merupakan proses terkendali penguraian bahan hayati sampah secara biologi (dengan bantuan mikroorganisme) sehingga mampu mengurangi volume timbunan sampah hingga 75%. Dengan melalui proses ini maka lubang resapan biopori berfungsi sebagai "pabrik" pembuat kompos, disamping sebagai lubang peresap air. Sebagai pabrik pembuat kompos, maka potongan sampah organik rumah tangga, potongan rumput atau vegetasi lainnya, dan sejenisnya perlu dimasukkan ke dalam lubang biopori. Hal ini dilakukan untuk memancing binatang-binatang kecil seperti cacing atau rayap masuk ke dalam lubang dan membuat rongga biopori sebagai saluran-saluran kecil.

Selain itu, bahan organik tersebut juga akan digunakan oleh mikroorganisme tanah sebagai sumber energi untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Penyediaan sumber energi dari sampah organik ini akan meningkatkan aktifitas mikroorganisme tanah yang sejalan pula dengan peningkatan biopori yang terbentuk.

Sampah organik perlu ditambahkan ke dalam LRB secara periodik karena sampah lambat laun akan menyusut. Jika LRB telah penuh dengan sampah yang terdekomposisi (kompos), maka kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan kondisioner tanah untuk pertanian.

Teknologi LRB merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan sampah organik. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan pengomposan dalam lubang tersebut yang dapat mengurangi volume timbunan sampah organik, waktu proses pengomposan yang lebih cepat dibandingkan dengan proses anaerob, pengoperasian yang sangat mudah, dan mengurangi terjadinya greenhouse gassess yang ditimbulkan dari pembakaran sampah organik. Selain itu, secara tidak langsung, pembuatan LRB juga mampu meningkatkan umur penggunaan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) karena adanya pengurangan pembuangan sampah organik yang dimanfaatkan sebagai sumber energi pada LRB.

Pada dasarnya, pembuatan lubang resapan biopori relatif lebih mudah untuk dipraktekkan jika dibandingkan dengan sumur resapan yang memerlukan lahan luas dan biaya bahan yang cukup besar. Hanya saja, tingkat kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya memelihara keseimbangan lingkungan masih rendah. Oleh karena itu, komitmen bersama baik antara individu, masyarakat, pemerintah dan organisasi pencinta lingkungan mutlak diperlukan untuk kesuksesan penerapan teknologi tepat guna ini.

dari berbagai sumber.