Senin, Maret 10, 2008

Semangat Pengelolaan Sampah Warga Jakarta

 


 

JAKARTA, KCM - Meskipun ibukota Jakarta belum bisa terbebas dari musibah banjir dan masih terperangkap dalam polusi udara, masyarakat urban kota metropolitan ini patut bergembira karena semangat warga untuk melestarikan lingkungan sekitar tidak pernah surut. Mereka tidak hanya rajin melakukan penghijauan tapi juga kreatif dalam mengelola limbah sampah.

Komunitas penggiat lingkungan hidup pun terus bertambah dari waktu ke waktu. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang serius menggeluti kegiatan ini dan menjadikannya lahan bisnis baru yang cukup menjanjikan.

Dengan maksud memberikan inspirasi dan motivasi kuat bagi anggota masyarakat lainnya untuk ikut tergerak dalam pengelolaan lingkungan hidup, Bumi Kita meliput secara langsung hiruk-pikuk para penggiat lingkungan hidup dalam mengolah sampah.

Salah satunya dituangkan dalam artikel tentang Entrepreneur, program pemberdayaan masyarakat melalui sampah kering yang digagas oleh Jakarta Green and Clean dengan judul "Entrepreneur: Dari Karyawan Hingga Bahan Baku " dan "Pilah-pilah Sampah, Kemudian Diolah " yang berisi potret aktifitas kader Entrepreneur di wilayah Pasar Minggu.

Tema pengelolaan sampah juga dibahas di artikel berjudul "Geliat Pengelolaan Sampah di Ciracas " yang antara lain dilakukan oleh komunitas anak muda dan orang tua. Tim Jakarta Green & Clean (JGC) juga memberikan apresiasi yang tinggi dengan melakukan kunjungan ke beberapa Sentra Kerajinan Sampah Kering seperti tertulis dalam berita "Tim JGC Sambangi Sentra Kerajinan Sampah Kering ".

Di lain pihak, pemerintah dan anggota Dewan juga memberikan perhatian khusus soal sampah, antara lain terlihat dalam peringatan Hari Peduli Sampah yang diisi dengan beragam kegiatan ("Sadar Sampah di Hari Peduli Sampah ") dan progres pembahasan RUU Pengolaan Sampah yang sedang dibahas oleh DPR RI dalam berita "DPR RI Mulai Bahas RUU Pengelolaan Sampah ".

Dan nampaknya semangat masyarakat Jakarta dalam melestarikan lingkungan hidup akan semakin berkobar saat penyelenggaraan lomba Jakarta Green and Clean (JGC) tahun 2008 digelar serentak di lima wilayah Jakarta seperti dibahas dalam artikel "JGC, Dulu dan Sekarang ".


Penulis: iskandar

Kamis, Maret 06, 2008

AGROINDUSTRI PRODUK FEMENTASI

POKOK-POKOK BAHASAN


 

MATAKULIAH    : AGROINDUSTRI PRODUK FEMENTASI

KODE/SKS        : TPI4216 /2 (2-0)

INISIAL DOSEN    : NAF, NHT

DESKRIPSI SINGKAT:

    Mata kuliah ini mencakup pengertian fermentasi, proses-proses fermentasi dengan bahan baku pertanian (tanaman, ikan, hewan), faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses, pengembangan skala produksi dan aspek pasar.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM:

    Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa akan mempunyai kemampuan komprehensif, sikap menilai dan     ketrampilan dan presisi dalam memanfaatkan mikrobial dalam industri sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi produk hasil pertanian melalui proses fermentasi


 

Pokok Bahasan 

Sub-Pokok Bahasan 

Waktu (jam)* 

Pendahuluan

  • Pengertian fermentasi
  • Produk Fermentasi
  • Sejarah Fermentasi
  • Komponen proses fermentasi

2

(NAF)

Mikrobia dalam Industri

  • Bakteri
  • Khamif
  • Kspang 

2 (NAF)

Kinetika Pertumbuhan

  • Kultur batch
  • Kultur kontinyu 

2 (NAF)

Media fermentasi

  • Media pertumbuhan
  • Media produksi

2 (NAF) 

Faktor lingkungan

  • Lingkungan abiotik
  • Lingkungan biotk

2 (NAF) 

Industri fermentasi Kapang

  • Fermentasi tempe
  • Fermentasi kecap
  • Fermentasi taoco
  • Fermentasi angkak 

2 (NHT)

Industri fermentasi khamir 

  • Fermentasi roti
  • Fermentasi tape
  • Fermentasi bir, wine dan cider 

2 (NHT) 

Industri fermentasi bakteri 

  • Fermentasi nata
  • Pickles dan sauerkraut
  • Fermentasi vinegar 

2 (NHT) 

Fermentasi hasil ternak dan ikan 

  • Fermentasi daging
  • Fermentasi susu, keju
  • Fermentasi peda, kecap ikan

2 (NHT) 

Fermentasi asam organik 

  • Asam sitrat
  • Asam laktat 

2 (NHT) 

  • Fermentasi terasi 

2 (NHT) 

Pengembangan produk dan aspek pasar 

  • Tren produk
  • Turunan produk Fermentasi 

2 (NHT) 

  • Promosi dan survey pasar 

2 (NHT) 

  • Pengembangan produk baru 

2 (NHT) 

*) 1 jam ekivalen dengan 50 menit


 

PUSTAKA:

  1. Dania, W.A.P., N. Hidayat dan I. Nurika. 2006. Membuat Minuman Prebiotik dan Probiotik. Trubus Agrisarana. Surabaya
  2. Hidayat, N., M.C. Padaga dan S. Suhartini, 2006, Mikrobiologi Industri. ANDi Offset. Yogyakarta
  3. Steinkraus, K.H. (ed), 1989, Industrialization of Indigenous Fermented Foods, Marcel Dekker, Inc. New York.
  4. Ulrich, K.T. and S.D. Eppinger, Perancangan dan Pengembangan produk (terjemahan), Penerbit Salemba teknika, Jakarta.


 

 

Senin, Maret 03, 2008

Melihat Desa Produksi Ciu Sebagai Objek Wisata?

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=154314&actmenu=38

Harian KR 2 Maret 2008

29/02/2008 08:56:45 GERAKAN tangan seorang Md (60) begitu cekatan. Kakek warga Desa Wlahar Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas masih terlihat sigap saat ia menuangkan cairan berisi campuran gula kelapa, tape singkong, dan 'laru' ke dalam panci yang dibakar di atas perapian. Setelah panci berukuran sekitar 15 liter terisi sepertiganya, ia segera menutupnya rapat dengan tutup yang telah dihubungkan dengan pipa bambu, lantas disalurkan melewati air dingin. Dan diujung pipa itu telah ditempatkan gelas kaca besar berukuran 2 - 3 liter untuk menampung air hasil sulingannya. Sepintas memang seperti orang memasak gula, atau menyuling minyak atsiri. Namun jika dicermati lebih lanjut, Md sedang membuat ciu, sejenis minuman tradisional Banyumas yang mengandung alkohol dan bisa memabukkan. Kegiatan membuat ciu ini memang sudah menjadi sumber penghidupannya sepuluh tahun terakhir. Ide membuat minuman itu bukan berarti muncul tiba-tiba, namun usaha bikin ciu sudah jadi andalan ratusan warga Desa Wlahar dan Windunegara, keduanya di Kecamatan Wangon yang sudah berlaku secara turun temurun. Bahkan, kakek Md sudah berprofesi sebagai pembuat ciu pada zaman penjajahan Belanda. "Kakek saya semasa hidup di zaman penjajah sudah bikin ciu. Namun, pemerintah Belanda melarang karena ciu juga mengandung khasiat sebagai obat, dan mereka tidak ingin teknologi itu dikuasai Bangsa Indonesia, hingga akhirnya warga sembunyi-sembunyi saat bikin minuman itu. Sekarang jumlah pasti perajin ciu tidak jelas, yang pasti ratusan," ceritanya kepada KR, Minggu (24/2) ditemui di dapur rumah tempat ia membuat ciu. *** MENYEBUT nama ciu, bayangan akan mabuk pastilah tercipta. Lantas untuk apa menggagas wisata alkohol di Banyumas? Wajar jika pertanyaan itu terungkap. Karena ide yang 'sangat aneh' ini tiba-tiba muncul, ketika pemerintah justru sedang 'perang' dengan minuman beralkohol. Tetapi pemerhati dan pelaku bisnis wisata, Edi Wahono SH mengatakan, sebagai warisan budaya turun temurun, potensi warga dalam membuat ciu bisa dimanfaatkan sebagai paket pariwisata. "Kita jangan melihat sisi hitam dan putih, namun realitasnya seperti itu, jika mereka dihentikan begitu saja lantas mau makan apa. Dengan potensi seperti itu, mungkin layak dijadikan objek wisata," ujarnya. Senada dengan itu Kepala Seksi Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum (URHU) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Deskart Sotyo Djatmiko SH MSi mengutarakan, ide membuat objek wisata alkohol dengan memanfaatkan produk ciu tradisional sudah ada dalam pemikiran lembaganya. Saat ini, Disparbud bersiap mengadakan studi kelayakan terhadap wisata itu. Ditambahkan, dengan menjadi objek wisata akan membuat harga ciu lebih mahal dari normalnya. Sebab, kedepan ia merencanakan labelling pengemasan ciu dalam botol seperti minuman impor. "Dengan dikemas dan dilabel harganya akan mahal, itu jelas mengurangi tingkat konsumsi ciu. Hanya orang mampu atau dalam hal ini dibatasi wisatawan saja yang boleh minum," tuturnya. Menurutnya, wujud wisata alhokol ialah sebuah kawasan berikat, di mana konsumsi dan distribusi ciu akan dibatasi hanya pada dua desa yang menghasilkannya. Jika beredar diluar lokasi itu tanpa izin akan kena sanksi hukum. *** DESA Wlahar memang bukan desa kaya. Tak heran jika sebagai sebuah kegiatan turun temurun, membuat ciu adalah sebuah kewajaran. Apalagi potensi sumber penghasilan lain yang dinilai lebih layak dan halal jarang di desa. Warga setempat kebanyakan berprofesi sebagai penderes, buruh, maupun sebagai kuli bongkar muat pasir dan batu di Kali Tajum yang mengalir di pinggiran desa, atau beberapa orang yang 'beruntung' mampu bekerja di luar negeri. Lantas bagaimana seperti Md 'menyambut' rencana wisata alkohol tersebut? Jelas, warga seperti kakek Md hal itu tidaklah mengetahui rencana itu. Yang dia tahu, ia hanya membuat dengan resep turun temurun. Sekali proses pembuatan, Md membutuhkan bahan-bahan di antaranya gula merah, laru atau sisa proses pemasakan ciu, air serta tape singkong. Untuk setiap 'resep' berisi campuran bahan pembuat minuman itu, mampu menghasilkan antara 35 - 40 liter ciu setelah dimasak satu hari. Minuman itu memiliki kandungan alkohol 40 - 60 persen. Pelanggan Md berbagai daerah sekitar Banyumas, Cilacap, dan Wonosobo datang sendiri ke rumahnya untuk membeli Ciu. Sehari Md bisa mendapatkan penghasilan kotor sekitar Rp 400 ribu. Meski dibilang menggiurkan, Md mengakui bisnis yang dijalaninya menyalahi aturan. Bahkan, Md pernah beberapa kali dicekal petugas kepolisian karena akitivitasnya. "Dulu pernah dicekal, namun setelah bebas kembali lagi, sebab saya bingung harus mengerjakan apa. Sedangkan kondisi fisik sudah tua, di daerah lain juga banyak pabrik penghasil minuman berskala besar, kenapa masih bebas berdiri?" tandasnya. Md mengharap, pemerintah bisa melegalkan usaha yang dilakoninya dan ratusan warga Wlahar dan Windunegara. "Kami ingin berbisnis secara legal dan berizin. Sehingga tidak perlu kucing-kucingan seperti saat ini," imbuhnya. (Jarot/Fsy)-c

Phytosterol effects on yogurt microflora

Phytosterols play a major role in functional foods. These sterols are now being added to various dairy based products. The researchers in this study investigated the potential antimicrobial activity of phytosterols in milk and their effect on yogurt starter cultures. They found that a commercial phytosterol preparation had no effect on the standard plate count and psychrotroph population in pasteurized milk stored at 4 °C. In addition, a challenge study employing Pseudomonas spp. in milk at 4 to 7 °C confirmed that the CPP was not antimicrobial.

The phytosterol preparation had no effect on the development by Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophilus during yogurt production at 33 °C and storage at 4 °C for 30 d. The researchers see this as beneficial since growth and acid development by these organisms are crucial for yogurt quality. They found that while the commercial preparation was somewhat antimicrobial when formulated with dispersing agents, it otherwise had no antimicrobial activity.


For more, see Journal of Food Science


Sabtu, Maret 01, 2008

Organisme Buatan Ubah Karbondioksida Menjadi Energi

http://kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.02.29.13070733&channel=1&mn=53&idx=57
Jumat, 29 Februari 2008 | 13:07 WIB

MONTEREY, KAMIS - Para ilmuwan di AS mengklaim telah berhasil merekayasa organisme di laboratorium yang dapat mengubah karbondioksida menjadi energi. Tidak hanya akan mengatasi polusi, terobosan ini juga menjanjikan sumber energi baru yang melimpah.

"Kami sedang berupaya menggeser seluruh industri petrokimia dan menjadi sumber energi utama," ujar Craig Venter dalam konferensi Technology, Entertainment, and Design di Monterey, California, Kamis (28/2). Venter selama ini dikenal sebagai pakar genetika terkemuka dan juga menjadi orang pertama di dunia yang telah dipetakan seluruh kode genetikanya.

Proyek pengembangan sumber energi yang disebutnya sebagai bahan bakar generasi keempat ini diyakini dapat mengatasi kebutuhan energi yang semakin besar. Menurutnya bio-bahan bakar sebagai alternatif energi fosil merupakan generasi ketiga. Terobosan berikutnya adalah membuat organisme yang dapat mencerna karbondioksida dan menghasilkan sampah yang dapat dijadikan energi, dalam hal ini gas metan.

Penyisipan kromosom

Tim penelitian yang dipimpin Venter menyisipkan kromosom buatan dari hasil replikasi sel ke dalam tubuh mikroorganisme, yakni bakteri jenis tertentu. Mikroorganisme tersebut sebelumnya sudah memiliki kemampuan memproduksi gas metan sebagai sumber energi namun secara alami tidak cukup banyak. Rekayasa genetika membuat bakteri lebih rakus menyerap karbondioksida sehingga menghasilkan gas buangan metan lebih banyak.

"Andaikata semua bakteri menghasilkan gas buang sebesar yang kami ingikan, Bumi sudah menjadi planet metan," ujar Venter menggembarkan batasan dalam penelitiannya. Skala produksi gas buang memang menjadi target utama yang mendasari rekayasa genetika, namun kemampuan setiap organisme menghasilkan metan tetap terbatas.

Untuk mencegah kebocoran, pada setiap organisme disisipkan gen pembunuh. Jadi, jika organisme di laboratorium lepas ke lingkungan, tubuhnya akan terprogram untuk bunuh diri.

Selain merekayasa bakteri penghasil energi, timnya juga mencoba menggunakan mikroorganisme untuk memproduksi vaksin flu dan berbagai penyakit lainnya. Bahkan, laboratorium yang didirikan Venter juga terus menyempurnakan teknik merangkai gen untuk menghasilkan makhluk hidup buatan di laboratorium.


Tri Wahono